Dalam lima menit
East India Company adalah perusahaan dagang Inggris. Ratu Elizabeth I memberikan piagam kerajaan kepadanya pada 31 Desember 1600. Perusahaan ini bertahan sekitar 274 tahun. Selama sebagian besar masa itu, perusahaan memindahkan barang antara Asia dan Eropa, lalu perlahan menjadi kekuatan politik dan militer di India. Komoditas utamanya adalah rempah, kain katun, dan sutra, lalu teh dan opium. Pada 1858 pemerintah Inggris mengambil alih pemerintahan India, dan perusahaan secara resmi dibubarkan pada 1 Juni 1874.
Kisah ini penting karena memperlihatkan apa yang terjadi ketika sebuah bisnis diberi kewenangan seperti pemerintah. Perusahaan yang awalnya membeli barang dengan murah akhirnya memungut pajak tanah dan memimpin pasukan di sebagian besar anak benua. Untuk konteks periode yang lebih luas, lihat ikhtisar imperialisme.
Mengapa perusahaan dagang ini didirikan
Pada akhir abad ke-16, pedagang Inggris ingin ikut dalam perdagangan rempah. Portugal sudah lama menguasai jalur laut mengelilingi Afrika menuju Asia, dan Belanda bersiap menantangnya. Satu kali pelayaran sangat mahal dan berbahaya. Badai, penyakit, dan armada saingan bisa menenggelamkan kapal beserta muatannya dalam satu musim. Para pedagang lalu membagi risiko dengan mengumpulkan uang dari banyak investor dan membagi keuntungan setiap pelayaran di antara para pemegang saham.
Pengaturan ini disebut perusahaan saham gabungan (joint-stock company). Ini adalah cikal bakal perseroan terbatas modern. Perusahaan dijalankan oleh dewan direksi yang dipilih para pemegang saham, dan markas besarnya adalah East India House di Leadenhall Street, London.
Kekuatan sejati perusahaan berasal dari piagam kerajaan. Piagam itu memberi perusahaan, untuk jangka waktu tertentu pada awalnya, hak eksklusif untuk berdagang di wilayah dan laut di luar Tanjung Harapan. Dengan kata lain, ini adalah monopoli yang didukung Mahkota, dan pedagang Inggris lain tidak bisa bersaing tanpa izin. Banyak sejarah perusahaan setelahnya berangkat dari hak istimewa ini. Siapa yang memegang piagam memegang perdagangan, dan siapa yang memegang perdagangan punya alasan untuk melindungi dan memperluasnya.
Belanda mendirikan perusahaan mereka sendiri, United East India Company (VOC), pada 1602. Perusahaan itu lebih besar dan lebih baik pendanaannya. Pada 1620-an, Inggris didesak keluar dari Kepulauan Rempah yang kini menjadi bagian Indonesia. Peristiwa Amboyna pada 1623, ketika pedagang Inggris dieksekusi di bawah kewenangan Belanda di Pulau Ambon, mengakhiri harapan Inggris atas bagian dalam perdagangan rempah di sana. Inggris lalu mengarahkan perhatian ke India, tempat kain katun, indigo, dan saltpetre (salpeter) bernilai tinggi.
Dari perdagangan ke kekuasaan: cara perusahaan memperoleh kuasa di India
Pada awal 1600-an, perusahaan memerlukan izin dari kaisar Mughal untuk berdagang di India. Perusahaan mendirikan pos dagang yang disebut “factory”, yang pada praktiknya adalah gudang dan kantor berbenteng. Basis awal yang penting adalah Surat di pantai barat India. Bombay, kini Mumbai, kemudian menjadi pusat besar lainnya.
Ketika kekuasaan Mughal melemah pada abad ke-18, penguasa regional di banyak wilayah India menjadi lebih mandiri. Perusahaan membangun basis terkuatnya di Benggala, di sekitar Kalkuta (kini Kolkata), tempat mereka mendirikan Fort William. Perusahaan juga membentuk pasukan. Sebagian besar prajuritnya adalah sepoy India, yang dipimpin perwira Inggris. Tentara pribadi ini membuat perusahaan lebih dari sekadar pedagang. Perusahaan bisa bertempur untuk melindungi kepentingannya, dan kemenangan dalam pertempuran itu pada gilirannya memperluas kepentingan tersebut.
Titik balik datang dalam Pertempuran Plassey pada 23 Juni 1757. Robert Clive memimpin pasukan perusahaan melawan Siraj ud-Daulah, nawab Benggala. Beberapa komandan nawab sendiri telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan, dan hal ini membantu kemenangan perusahaan. Para sejarawan masih memperdebatkan seberapa menentukan pertempuran itu, tetapi hasilnya memberi perusahaan pengaruh besar di Benggala, salah satu wilayah terkaya di India.
Tujuh tahun kemudian, di Buxar pada 1764, perusahaan mengalahkan pasukan gabungan dari Benggala, Awadh, dan Mughal. Setahun berikutnya, berdasarkan Perjanjian Allahabad pada 1765, kaisar Mughal memberikan perusahaan hak diwani, yaitu hak memungut pajak tanah di Benggala, Bihar, dan Orissa. Sejak saat itu, perusahaan bukan hanya penjual barang, tetapi juga otoritas pajak bagi jutaan orang.
Perusahaan tidak memiliki cukup administrator terlatih untuk menjalankan sistem pendapatan ini secara langsung. Perusahaan sering menyerahkan pemungutan pajak kepada agen lokal, yang tertekan untuk menyetorkan jumlah besar. Petani menanggung sebagian besar bebannya.
Yang salah: kelaparan dan reformasi
Kelaparan Benggala pada 1770 memperlihatkan harga manusiawi dari sistem ini. Kekeringan dan gagal panen melanda wilayah itu, sementara tuntutan pajak tetap tinggi. Perusahaan hampir tidak benar-benar berusaha memberi bantuan. Satu perkiraan yang banyak dikutip menyebut kerugiannya sekitar sepertiga populasi wilayah itu, tetapi para sejarawan sangat berbeda pendapat tentang angka pastinya, dengan perkiraan mulai dari sekitar 2 juta hingga sekitar 10 juta jiwa. Berapa pun angka pastinya, bencana ini merusak reputasi perusahaan di Inggris.
Skandal dan biaya mendorong Parlemen bertindak. Regulating Act 1773 menjadikan gubernur Benggala sebagai gubernur-jenderal dengan kewenangan atas wilayah kekuasaan perusahaan lainnya, dan membentuk Mahkamah Agung di Kalkuta. Warren Hastings menjadi gubernur-jenderal pertama. Majelis Rendah (House of Commons) memilih untuk memakzulkannya pada 1787. Persidangannya di Majelis Tinggi (House of Lords) dimulai pada 1788 dan berakhir dengan vonis bebas pada 1795.
Pitt's India Act 1784 lebih jauh lagi. Undang-undang ini membentuk Board of Control di London agar pemerintah dapat mengawasi urusan politik perusahaan, sementara perusahaan tetap mengendalikan perdagangan sehari-hari dan sebagian besar pengangkatan. Hasilnya adalah sistem ganda: perusahaan memerintah di India, tetapi sebuah dewan pemerintah memegang keputusan akhir dalam urusan politik.
Kemunduran panjang perusahaan
Pada awal 1800-an, perusahaan kehilangan monopolinya secara bertahap. Charter Act 1813 mengakhiri monopoli perdagangan dengan India, tetapi perusahaan tetap mempertahankan monopoli perdagangan teh dan perdagangan dengan Tiongkok. Charter Act 1833 menghapus sisa monopoli itu juga, sehingga perusahaan kini terutama menjadi badan administratif, bukan lagi perusahaan dagang.
Pada 1857, tentara dan banyak warga sipil di India utara bangkit melawan. Pemberontakan ini, yang dikenal sebagai Pemberontakan India 1857 atau Pemberontakan Sepoy, memiliki beberapa penyebab, termasuk aneksasi negara-negara, kemarahan atas perlakuan terhadap sepoy, dan kekhawatiran tentang kebijakan pertanahan. Rumor bahwa kartrid senapan dilumuri lemak hewan menambah kemarahan. Para sejarawan masih berbeda pendapat tentang cara menyebutnya: sebagian menyebutnya pemberontakan, yang lain menyebutnya perang kemerdekaan pertama. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan pada 1858.
Setelah pemberontakan, Parlemen mengesahkan Government of India Act 1858. Kekuasaan atas India berpindah dari perusahaan ke Mahkota Inggris, dan gubernur-jenderal India yang menjabat juga memperoleh gelar viceroy, bertindak atas nama Mahkota. Perusahaan bertahan beberapa tahun sebagai cangkang kosong dan secara resmi dibubarkan pada 1 Juni 1874.
Warisan perusahaan
Kebiasaan administrasi, struktur hukum, dan sistem pajak perusahaan terbawa ke Kekaisaran Inggris di India yang berikutnya. Angkatan darat, pengadilan, dan pengaturan pendapatannya membentuk pola yang bertahan lama setelah perusahaan itu sendiri menghilang.
Kisah perusahaan juga kisah kekerasan dan eksploitasi. Di Benggala, banyak petani dipaksa menanam nila, tanaman pewarna, dengan syarat yang membuat mereka miskin. Opium yang ditanam di India dijual ke Tiongkok, merusak masyarakat di sana. Keuntungan sebagian besar mengalir ke pemegang saham dan pejabat Inggris, bukan kepada orang yang menanam hasil bumi atau membayar pajak. Para sejarawan memperdebatkan cara menimbang biaya-biaya ini terhadap peran ekonomi perusahaan, dan itulah salah satu alasan perusahaan ini masih dipelajari.
Yang sering ditanyakan dalam ujian
Soal ujian sering menanyakan mengapa perusahaan didirikan, bagaimana ia beralih dari perdagangan ke pemerintahan, dan mengapa pemerintah Inggris mengambil alih pada 1858. Jawaban yang jelas biasanya memuat satu penyebab, satu titik balik, dan satu hasil. Poin yang berguna meliputi:
- Alasan didirikan: piagam kerajaan memberi monopoli, dan investor saham berbagi risiko.
- Titik balik: Plassey pada 1757 dan diwani pada 1765.
- Kontrol negara yang lebih besar: Regulating Act 1773 dan Pitt's India Act 1784.
- Akhir: pemberontakan 1857, Government of India Act 1858, dan pembubaran pada 1874.
Saat membandingkan dengan perusahaan Belanda, perlu dicatat bahwa Belanda membangun kekaisarannya terutama di sekitar Kepulauan Rempah dan Jawa, sedangkan Inggris bergerak ke tanah dan pajak di India.
Baca selanjutnya
Halaman-halaman ini terhubung dengan kisah tersebut:
- Persaingan East India Company Belanda dan Inggris: bagaimana kedua perusahaan saingan itu bersaing memperebutkan rempah dan perdagangan.
- Perang Boer (Perang Afrika Selatan): bagaimana kekuatan Kekaisaran Inggris meluas ke Afrika bagian selatan.
- Penghapusan Perdagangan Budak dan Perbudakan: salah satu jalur utama lain dalam sejarah Kekaisaran Inggris, dan bagaimana jalur itu berakhir.