Dalam lima menit
Kebijakan 3B Jerman adalah sebutan singkat untuk dorongan Berlin ke Kekaisaran Ottoman dan Timur Tengah pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia I. Nama ini berasal dari huruf awal tiga tempat: Berlin, Bizantium (nama lama Istanbul, ibu kota Ottoman), dan Bagdad. Intinya adalah satu proyek, yaitu jalur kereta Berlin–Bagdad, yang dimaksudkan untuk membawa perdagangan dan pengaruh politik Jerman dari Bosporus menuju Tigris.
Istilah ini hanyalah singkatan, bukan dokumen kebijakan resmi Jerman. Para sejarawan memakainya untuk menggambarkan sejumlah tujuan yang saling terkait: jalur kereta api, pinjaman, perdagangan, dan pengaruh politik. Kebijakan ini sering dibandingkan dengan gagasan Inggris untuk menghubungkan Cape Town, Kairo, dan Kalkuta, yang dikenal sebagai kebijakan 3C. Untuk latar belakang persaingan kolonial yang lebih luas, lihat ulasan tentang imperialisme.
Jawaban singkatnya, kebijakan 3B menambah persaingan yang mengarah ke 1914. Kebijakan ini membuat Inggris dan Rusia cemas, tetapi tidak pernah menjadi satu-satunya penyebab perang.
Mengapa Jerman menoleh ke timur
Kekaisaran Jerman didirikan pada 1871 dan berkembang pesat sebagai kekuatan industri, tetapi jumlah koloninya di seberang lautan jauh lebih sedikit daripada Inggris atau Prancis. Ketika Wilhelm II naik takhta pada 1888, ia menjalankan politik luar negeri yang lebih aktif, dikenal sebagai Weltpolitik (politik dunia), yang bertujuan menjadikan Jerman kekuatan di setiap benua.
Sementara itu, Kekaisaran Ottoman kekurangan uang. Sejak 1881, sebuah Administrasi Utang Publik, dengan kreditur Eropa di dalam dewannya, mengawasi sebagian pendapatan negara. Para penguasa Ottoman menginginkan jalur kereta modern untuk menyatukan provinsi-provinsi yang jauh serta memindahkan pasukan dan barang lebih cepat. Bank-bank Jerman melihat peluang pinjaman, dan insinyur Jerman melihat kontrak konstruksi. Kedua kepentingan itu bertemu, dan gagasan 3B tumbuh dari pertemuan tersebut.
Konsesi jalur kereta Berlin–Bagdad
Pada 1888, sebuah kelompok yang dipimpin Deutsche Bank memenangkan konsesi Ottoman untuk membangun dan mengoperasikan Jalur Kereta Anatolia, jalur yang membentang ke pedalaman dari pantai Asia Istanbul. Ini merupakan langkah awal yang dibiayai Jerman, tetapi belum menjadi proyek Bagdad itu sendiri.
Selama dekade berikutnya, Kementerian Pekerjaan Umum Ottoman menerima banyak usulan untuk jalur ke Bagdad. Rencana yang menang dimiliki oleh kelompok yang berpusat pada Deutsche Bank. Kesepakatan itu diresmikan pada Maret 1903, dan Perusahaan Kereta Bagdad didirikan, sebuah perusahaan yang didominasi bank-bank Jerman.
Rute yang direncanakan membentang dari Konya melewati Pegunungan Taurus ke Aleppo, lalu terus melalui Mesopotamia utara ke Mosul dan Bagdad. Tujuan jangka panjangnya adalah mencapai Teluk Persia di Basra. Sumber-sumber berbeda pendapat tentang beberapa rincian tahap awal, jadi anggaplah tahun pasti untuk langkah-langkah itu sebagai perkiraan.
Kunjungan 1898
Pada musim gugur 1898, Wilhelm II melakukan kunjungan kenegaraan ke Kekaisaran Ottoman, mengunjungi Istanbul, Damaskus, dan Yerusalem. Sultannya adalah Abdul Hamid II. Di Damaskus, sang Kaisar berbicara kepada khalayak Muslim dengan nada bersahabat, langkah yang dibaca banyak sejarawan sebagai upaya yang disengaja untuk menarik hati rakyat Muslim sang sultan.
Kunjungan itu mempererat hubungan dan umumnya dipandang membantu posisi Jerman dalam proyek jalur kereta, meski para sejarawan memperdebatkan seberapa besar hasil langsungnya. Cara teraman adalah menggambarkan dampaknya dengan hati-hati, bukan sebagai keberhasilan yang jelas.
Pada tahun yang sama, Inggris dan Prancis hampir berperang di Fashoda di Sudan. Insiden Fashoda menunjukkan betapa tajamnya persaingan kolonial ketika proyek Bagdad sedang dibentuk.
Inggris, Rusia, dan Teluk
Kekhawatiran Inggris bersifat praktis. Jalur buatan Jerman yang mencapai Teluk Persia akan membawa kekuatan saingan dekat dengan jalur laut menuju India dan pengaruh Inggris di Teluk. London menggunakan diplomasi dan hubungannya dengan para penguasa Teluk untuk menyulitkan terwujudnya ujung jalur Jerman di Teluk.
Pada 1913, Inggris dan Kekaisaran Ottoman menyepakati syarat yang membuat perpanjangan jalur ke arah Teluk bergantung pada persetujuan Inggris. Pada Juni 1914, Inggris dan Jerman mencapai kesepakatan London mengenai soal yang sama, tetapi perang datang sebelum kesepakatan itu bisa dijalankan.
Rusia punya kekhawatirannya sendiri tentang Persia dan Kaukasus. Pada 1907, Inggris dan Rusia menyelesaikan sengketa lama atas Persia, Afganistan, dan Tibet dalam Konvensi Anglo-Rusia. Bersama pemahaman Anglo-Prancis 1904 dan hubungan Prancis dengan Rusia, hal ini membentuk Triple Entente. Jalur kereta bukan satu-satunya penyebab keselarasan tersebut, tetapi ia membuat kekuatan-kekuatan yang bersaing semakin saling curiga.
Apa yang terjadi kemudian
Ketika perang pecah pada Agustus 1914, jalur itu masih jauh dari selesai. Jerman dan Kekaisaran Ottoman telah menandatangani aliansi pada awal Agustus, dan Ottoman bergabung dalam perang di pihak Jerman pada musim gugur itu. Keduanya kalah pada 1918, dan Timur Tengah dibentuk ulang di bawah mandat baru serta pengaruh Inggris dan Prancis.
Bagian-bagian yang masih kurang di Irak diselesaikan pada 1939 dan 1940. Rute utuh selesai pada Juli 1940, lebih dari lima puluh tahun setelah konsesi 1888, dan perjalanan penuh pertama dari Istanbul ke Bagdad menyusul dalam beberapa hari. Pada saat itu, dunia politik yang hendak dilayani jalur ini sudah berubah total.
Apakah kebijakan 3B menyebabkan perang?
Sebagian besar sejarawan tidak menganggap kebijakan 3B sebagai penyebab utama Perang Dunia I. Jalur kereta hanyalah salah satu benang dari banyak hal. Ia memupuk kecurigaan antara Jerman dengan Inggris, Prancis, dan Rusia, serta membuat Teluk dan Mesopotamia menjadi tempat para saingan saling mengawasi dengan ketat. Aliansi, perlombaan senjata, dan krisis Balkan setidaknya sama pentingnya. Pembacaan yang adil adalah kebijakan 3B menambah ketegangan, bukan yang memicu perang.
Yang sering ditanyakan dalam ujian
Soal ujian sering memperlakukan kebijakan 3B sebagai studi kasus tentang imperialisme dan persaingan antarkekuatan besar. Jawaban yang kuat mencakup tiga sudut pandang: sisi ekonomi (pinjaman, konsesi jalur kereta, dan akses ke pasar), sisi strategis (kepedulian Inggris terhadap India dan Teluk, serta gagasan tandingan 3C), dan sisi aliansi (Konvensi Anglo-Rusia 1907 dan Triple Entente).
- Pahami perbedaan antara gagasan 3B (Jerman, dari Berlin ke Bagdad) dan gagasan 3C (Inggris, dari Cape Town ke Kalkuta melalui Kairo).
- Ingat bahwa jalur kereta dibiayai oleh kelompok perbankan yang dipimpin Jerman, masih belum selesai pada 1914, dan baru rampung pada 1940.
- Tulislah bahwa kebijakan ini berkontribusi pada persaingan, bukan menyebabkan perang, kecuali jika soal meminta satu penyebab tunggal.
Bacaan berikutnya
- Kebijakan 3C Inggris (Kairo, Cape Town, Kalkuta) memperlihatkan sisi Inggris dari persaingan yang sama.
- Insiden Fashoda (1898) menjelaskan krisis Inggris–Prancis pada tahun yang sama.
- Penghapusan Perdagangan Budak dan Perbudakan melihat sisi lain dari dunia kekaisaran dan perdagangan abad ke-19.