Dalam lima menit
Imperialisme adalah kebijakan sebuah negara untuk memperluas kekuasaannya atas wilayah dan bangsa lain. Kadang itu berarti memiliki koloni secara penuh. Kadang berarti membiarkan negara yang lebih lemah tetap secara nominal merdeka, sambil mengendalikan perdagangan, utang, dan urusan luar negerinya. Para sejarawan paling sering memakai istilah ini untuk periode dari tahun 1870-an hingga 1914, ketika Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Amerika Serikat, Belgia, Italia, dan Jepang berebut tanah dan pasar di Afrika, Asia, dan Pasifik.
Singkatnya, imperialisme berkaitan dengan kekuasaan dan keuntungan. Ekonomi industri membutuhkan bahan mentah dan pembeli. Pemerintah menginginkan pangkalan angkatan laut, jalur perdagangan, dan gengsi nasional. Banyak pemimpin juga percaya pada “misi peradaban”, gagasan yang membenarkan pemerintahan atas bangsa yang dianggap kurang berkembang. Hasilnya adalah dunia ketika sejumlah kecil negara memerintah sebagian besar planet ini. Topik ini termasuk dalam panduan kami Sejarah Dunia 1700–1918.
Makna imperialisme
Para sejarawan sering membedakan imperium formal, ketika sebuah negara memerintah wilayah secara langsung, dari imperium informal, ketika ia mengendalikan negara lain melalui perjanjian, utang, hak dagang, atau ancaman kekerasan. India di bawah Inggris adalah koloni formal. Tiongkok setelah Perang Candu adalah contoh klasik kontrol informal: kekuatan asing memperoleh pelabuhan dagang tempat warga mereka diadili di pengadilan konsuler sendiri.
Kata kolonialisme dan imperialisme sering dipakai bergantian. Banyak sejarawan menggunakan kolonialisme untuk pemerintahan atas wilayah tertentu, dan imperialisme untuk kebijakan yang lebih luas yang melahirkannya.
Mengapa imperialisme terjadi
Tidak ada satu penyebab tunggal. Para sejarawan biasanya mengelompokkan alasannya ke dalam kelompok ekonomi, strategis, serta politik dan ideologis.
Alasan ekonomi
Pabrik-pabrik di Eropa dan Amerika Serikat membutuhkan kapas, karet, tembaga, dan minyak sawit, dan mereka menginginkan pembeli untuk barang yang mereka buat. Investor mencari tempat yang aman untuk meminjamkan uang serta membangun jalur kereta api dan tambang. Pada tahun 1902, ekonom Inggris J. A. Hobson berpendapat bahwa rendahnya belanja masyarakat biasa di dalam negeri mendorong bangsa-bangsa mencari pasar dan investasi di luar negeri. Pada tahun 1916, Vladimir Lenin mengaitkan imperialisme dengan bank-bank raksasa dan perusahaan monopoli. Para sejarawan masih memperdebatkan sejauh mana ekonomi menjelaskan ekspansi, karena banyak koloni justru lebih mahal bagi penguasanya daripada keuntungan yang mereka hasilkan.
Alasan strategis
Kekuatan angkatan laut membutuhkan stasiun pengisian bahan bakar dan pangkalan di sepanjang jalur laut menuju koloni mereka. Terusan Suez, yang dibuka pada tahun 1869, memangkas rute laut dari Eropa ke India dan Asia Timur. Inggris menduduki Mesir pada tahun 1882, dan terusan itu menjadi salah satu aset yang paling ketat dijaga. Strategi juga cenderung membesar seperti bola salju: menguasai satu wilayah berarti harus mempertahankan wilayah berikutnya.
Alasan politik dan ideologis
Pemerintah mengukur gengsinya dari jumlah koloni yang mereka miliki. Para saingan saling meniru, sehingga ketika Prancis atau Jerman mengklaim tanah, Inggris sering ingin menyamainya. Darwinisme sosial, gagasan bahwa masyarakat manusia mengikuti aturan yang sama tentang bertahan hidup bagi yang terkuat, dipakai untuk berargumen bahwa sebagian bangsa secara alami lebih unggul. Puisi “Beban Orang Kulit Putih” (1899) karya Rudyard Kipling adalah contoh terkenal dari rasa kewajiban dan peradaban yang dipuji luas di Eropa dan Amerika Serikat pada masa itu.
Apa yang terjadi
Perebutan Afrika
Pada tahun 1884 dan 1885, delegasi dari negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Kekaisaran Ottoman bertemu di Berlin untuk menetapkan aturan merebut tanah Afrika. Tidak ada penguasa Afrika yang hadir. Konferensi itu tidak membagi benua dalam satu pertemuan, tetapi menyepakati bahwa sebuah klaim hanya sah jika disertai pendudukan efektif. Selama tiga dekade berikutnya, kekuatan Eropa bergerak ke pedalaman dengan cepat. Pada tahun 1914, sekitar 90 persen Afrika berada di bawah pemerintahan Eropa. Etiopia dan Liberia adalah pengecualian utama. Etiopia mengalahkan Italia dalam Pertempuran Adwa pada tahun 1896 dan mempertahankan kemerdekaannya sampai Italia menduduki wilayahnya dari 1936 hingga 1941.
Perbatasan sering ditarik tanpa banyak memperhatikan bahasa, agama, atau kerajaan yang sudah ada. Banyak batas negara di peta saat ini berasal dari keputusan-keputusan tersebut.
Kasus terburuk melibatkan kekerasan. Di Negara Bebas Kongo, yang dikelola Raja Leopold II dari Belgia sebagai miliknya pribadi dari 1885 hingga 1908, kerja paksa untuk mengumpulkan karet menyebabkan kehilangan nyawa yang sangat besar. Sebagian besar sejarawan memperkirakan jumlah penduduk turun hingga jutaan jiwa, meskipun perkiraannya sangat bervariasi. Di Afrika Barat Daya Jerman, perang kolonial melawan bangsa Herero dan Nama dari 1904 hingga 1908 menewaskan puluhan ribu orang, dan kini kebanyakan sejarawan menyebutnya genosida.
Tiongkok dan Asia
Inggris dua kali berperang melawan Tiongkok pada pertengahan abad ke-19, yakni dari 1839 hingga 1842 dan dari 1856 hingga 1860. Perang pertama berawal dari sengketa perdagangan candu, sedangkan yang kedua berpusat pada perluasan hak dagang. Perjanjian Nanjing pada tahun 1842 memberi Inggris Pulau Hong Kong dan membuka beberapa pelabuhan. Seiring waktu, Tiongkok kehilangan kendali atas tarif bea cukainya di pelabuhan-pelabuhan dagang, dan warga asing di sana diadili oleh pengadilan mereka sendiri.
Amerika Serikat memilih alat yang berbeda. Pada tahun 1899, negara itu meminta kekuatan-kekuatan dunia untuk membuat Tiongkok tetap terbuka bagi perdagangan yang setara, yang dikenal sebagai kebijakan Pintu Terbuka (Open Door), tanpa memiliki koloni formal di sana. Ini menunjukkan bahwa pengaruh atas perdagangan bisa sama berharganya bagi sebuah kekuatan seperti memiliki wilayah.
Di India, pemberontakan besar pada tahun 1857 membuat pemerintah Inggris mengakhiri kekuasaan Perusahaan Hindia Timur dan memerintah langsung mulai 1858. Mahkota Inggris memerintah India hingga kemerdekaan pada tahun 1947.
Jepang sendiri adalah kekuatan imperial. Setelah membuka diri untuk perdagangan asing pada 1850-an, negara ini memodernisasi diri dengan cepat. Jepang merebut Taiwan setelah Perang Tiongkok–Jepang tahun 1894 hingga 1895, mencaplok Korea pada tahun 1910, dan menyerbu Manchuria pada tahun 1931. Kisah Jepang menunjukkan bahwa imperialisme bukan hanya proyek Barat.
Amerika Serikat juga ikut serta. Setelah Perang Spanyol–Amerika tahun 1898, negara ini mengambil Filipina, Guam, dan Puerto Riko, dan pada tahun yang sama mencaplok Hawaii.
Warisan yang ditinggalkan
- Perbatasan dan negara. Batas-batas koloni diwariskan kepada banyak negara merdeka setelah 1945, kadang menggabungkan kelompok yang sedikit kesamaannya dan kadang memisahkan kelompok lain.
- Ekonomi yang timpang. Banyak koloni dipaksa menanam tanaman atau menambang mineral untuk diekspor, sehingga ekonomi mereka terikat pada pembeli asing.
- Persaingan dan perang. Perebutan koloni, termasuk krisis Maroko pada 1905 dan 1911, menambah ketegangan yang mengarah ke Perang Dunia I pada 1914.
- Perlawanan dan kemerdekaan. Bangsa-bangsa yang dijajah membentuk partai politik, melakukan protes, dan berjuang bersenjata. Kongres Nasional India didirikan pada 1885, dan Mahatma Gandhi memimpin gerakan non-kerja sama pada 1920. Pada 1960, tujuh belas negara Afrika merdeka.
Para sejarawan masih memperdebatkan seberapa besar ketimpangan saat ini berakar pada pemerintahan kolonial. Sebagian besar sepakat bahwa dampaknya sangat dalam dan tidak merata, serta bahwa orang-orang yang hidup di bawah pemerintahan kolonial hampir tidak punya suara dalam keputusan yang membentuk hidup mereka.
Yang ditanyakan dalam ujian
Ujian sejarah biasanya meminta Anda menjelaskan penyebab, memberi contoh, dan menilai dampak. Sebutkan penyebab ekonomi, strategis, dan ideologis secara terpisah. Bandingkan imperialisme dengan kekaisaran kuno seperti Romawi, yang juga menguasai wilayah jauh, tetapi ekonomi industri dan rasisme ilmiah membentuk versi yang lebih belakangan. Kaitkan persaingan akhir abad ke-19 dengan Perang Dunia I. Tanggal dan tempat yang spesifik memperkuat jawaban Anda: 1884 untuk Berlin, 1858 untuk India, 1910 untuk Korea.
Bacaan selanjutnya
Untuk sisi Inggris dalam cerita ini, bacalah Era Victoria (1837–1901), yang membahas kekaisaran di dalam dan luar negeri. Untuk perspektif Tiongkok, bacalah Tiongkok Qing, Jepang, dan Barat (1793–1912), yang menjelaskan sistem perjanjian dan tekanan yang ditimbulkannya.