Dalam lima menit
Revolusi 1911, yang juga dikenal sebagai Revolusi Xinhai, adalah pemberontakan yang menumbangkan Dinasti Qing dan mengakhiri sistem kekaisaran Tiongkok. Pemberontakan ini bermula di Wuchang pada 10 Oktober 1911, dan dalam hitungan bulan, kaisar Qing terakhir sudah turun takhta dan sebuah republik telah diproklamasikan. Namanya berasal dari kalender tradisional Tiongkok, yang menyebut tahun 1911 sebagai xinhai.
Untuk memahami mengapa peristiwa ini terjadi, kita perlu melihat cerita yang lebih panjang. Sebelum 1911, pemerintah Qing telah kalah dalam beberapa perang melawan kekuatan asing, harus membayar dalam jumlah besar kepada mereka, dan menyaksikan sebagian wilayahnya jatuh di bawah pengaruh asing. Istana mencoba melakukan reformasi, tetapi perubahannya terlalu lambat bagi banyak orang. Untuk latar belakang yang lebih luas, baca hub kami Dinasti Qing, Jepang, dan Barat (1793–1912).
Penyebab: istana yang kehilangan kendali
Akar masalahnya sudah dimulai jauh sebelum 1911. Kemenangan Inggris dalam Perang Candu Pertama (1839–1842) berakhir dengan Perjanjian Nanjing, yang membuka beberapa pelabuhan untuk perdagangan dan menyerahkan Pulau Hong Kong kepada Inggris. Kemenangan Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang 1894–1895 membuat Tiongkok kehilangan Taiwan. Pada 1898, Reformasi Seratus Hari, sebuah gelombang pembaruan modern, dihentikan oleh kudeta istana yang dipimpin Permaisuri Janda Cixi. Setiap kekalahan dan setiap reformasi yang gagal membuat istana semakin sulit meyakinkan rakyat bahwa mereka mampu melindungi negara.
Ada tiga tekanan yang mendorong Dinasti Qing menuju keruntuhan. Pertama, reformasi datang terlambat dan membuat banyak orang resah. Pada 1905, istana menghapus ujian pegawai negeri kekaisaran, yang selama lebih dari seribu tahun memilih pejabat melalui pembelajaran Konfusianisme. Tujuannya adalah membangun sekolah modern dan kelas perwira baru. Namun, perubahan ini juga menutup jalur karier lama bagi banyak cendekiawan, dan reformasi memakan biaya besar: sekolah dan tentara baru membutuhkan uang yang tidak dimiliki kas negara.
Tekanan kedua adalah utang dan kendali asing. Setelah Pemberontakan Boxer, Protokol Peking 1901 mewajibkan Tiongkok membayar ganti rugi besar kepada negara-negara asing. Uang itu diperoleh dari pajak yang lebih tinggi dan pinjaman, sementara kekuatan asing masih memegang hak atas jalur kereta api dan tambang di beberapa wilayah. Banyak orang merasa kekayaan negara sedikit demi sedikit berpindah ke tangan asing.
Tekanan ketiga adalah krisis kereta api tahun 1911. Pada Mei, pemerintah mengumumkan bahwa jalur kereta api utama akan berada di bawah kendali negara, dan pemerintah menyetujui pinjaman asing yang dijamin dengan hak atas jalur kereta api. Di Sichuan, tempat para pemegang saham lokal telah menanamkan sebagian besar dana untuk jalur tersebut, kemarahan berkembang menjadi gerakan protes luas yang dikenal sebagai Gerakan Perlindungan Kereta Api. Istana mengirim pasukan dari Tiongkok tengah untuk menanganinya, dan sebagian pasukan itu ditarik dari kawasan Wuhan, sehingga pertahanan Wuchang melemah. Para sejarawan sering memandang krisis ini sebagai mata rantai antara reformasi dan pemberontakan.
Kaum revolusioner sudah mengatur gerakan selama bertahun-tahun. Sun Yat-sen dan sekutunya mendirikan Aliansi Revolusioner, dalam bahasa Tiongkok disebut Tongmenghui, di Tokyo pada 20 Agustus 1905. Programnya berlandaskan Tiga Prinsip Rakyat: nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat. Anggotanya tersebar di seluruh Tiongkok dan luar negeri, sehingga mengatur pemberontakan yang terkoordinasi tidak pernah mudah.
Upaya sebelumnya sudah pernah gagal. Pemberontakan yang direncanakan di Guangzhou pada 1895 ditemukan dan digagalkan sebelum sempat dimulai. Pada April 1911, pemberontakan Guangzhou lainnya, Pemberontakan Huanghuagang, dikalahkan dalam waktu sekitar satu hari, dan banyak pejuangnya tewas. Setiap kegagalan mengajarkan para pengatur gerakan bahwa mereka membutuhkan dukungan dari dalam tentara, dan Tentara Baru, yaitu unit modern yang dilatih dengan gaya Barat, menjadi sasaran utama mereka.
Apa yang terjadi dalam Revolusi 1911
Pemberontakan ini hampir terjadi secara kebetulan. Pada awal Oktober 1911, para revolusioner sedang membuat bom di konsesi Rusia di Hankou ketika salah satu bom meledak. Polisi Rusia menangkap beberapa orang dan menyita daftar anggota yang mencantumkan para revolusioner di Tentara Baru. Rencana itu terbongkar, dan para pengatur harus bertindak lebih cepat dari yang direncanakan.
Pada 10 Oktober 1911, prajurit Tentara Baru di Wuchang memberontak dan menyerang kediaman gubernur jenderal Qing. Kota itu segera jatuh ke tangan pemberontak. Hanyang dan Hankou, kota-kota tetangga di seberang sungai, direbut pada 11 dan 12 Oktober. Sun Yat-sen sedang berada di luar negeri saat itu dan membaca tentang pemberontakan tersebut di koran keesokan paginya.
Para pemberontak di Wuchang membutuhkan tokoh yang bisa memimpin. Mereka memilih Li Yuanhong, seorang perwira militer, sebagai gubernur militer, sehingga gerakan baru itu langsung punya pemimpin di lapangan. Banyak provinsi tidak berperang sama sekali. Pejabat setempat, perwira militer, dan tokoh gentri sering memutuskan bahwa Qing sudah habis, lalu menyatakan kemerdekaan sendiri atau berhenti menuruti perintah dari Beijing.
Kabar pemberontakan menyebar dengan cepat. Dalam sekitar dua bulan, kurang lebih selusin provinsi telah melepaskan diri dari kekuasaan Qing. Istana tidak lagi memiliki kekuatan yang bisa menumpas gerakan itu di mana-mana sekaligus. Istana kemudian berpaling kepada Yuan Shikai, jenderal yang cakap dan sebelumnya pernah dicopot dari jabatannya. Pada 1 November 1911 ia diangkat menjadi perdana menteri dan mulai berunding dengan kaum revolusioner. Perundingan itu menjadi inti dari peristiwa berikutnya.
Akibat: dari kekaisaran menjadi republik
Republik Tiongkok diproklamasikan di Nanjing pada 1 Januari 1912, dengan Sun Yat-sen sebagai presiden sementara. Sekitar enam minggu kemudian, pada 12 Februari, Kaisar Xuantong yang saat itu berusia enam tahun, dikenal sebagai Puyi, turun takhta. Sistem kekaisaran yang telah memerintah Tiongkok sejak penyatuan oleh Dinasti Qin pada 221 SM pun berakhir. Sun kemudian menyerahkan jabatan presiden kepada Yuan Shikai, yang dilantik pada 10 Maret 1912.
Republik baru tidak memiliki tentara yang kuat maupun basis pajak yang stabil, dan banyak sejarawan berpendapat bahwa kelemahan ini ikut membentuk apa yang terjadi berikutnya. Persaingan politik segera memanas. Song Jiaoren, tokoh utama di balik Partai Nasionalis (Kuomintang), yang memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen pertama, dibunuh di Shanghai pada Maret 1913. Sun dan para pendukungnya mengangkat senjata melawan Yuan pada musim panas itu dalam peristiwa yang disebut Revolusi Kedua, tetapi pasukan Yuan mengalahkan pemberontakan itu dalam beberapa bulan.
Yuan berusaha mengembalikan monarki pada 1915, tetapi rencananya mendapat penentangan keras dan ia membatalkannya pada 1916. Ia meninggal pada Juni tahun itu. Pemimpin militer daerah, yang dikenal sebagai panglima perang (warlord), kemudian saling bersaing merebut kekuasaan di sebagian besar negeri. Revolusi telah mengakhiri kekaisaran, tetapi membangun negara nasional yang stabil membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Mengapa ini penting? Peristiwa ini mengakhiri tatanan politik yang telah bertahan lebih dari dua ribu tahun. Peristiwa ini juga menjadikan gagasan tentang republik sebagai pertanyaan politik utama selama beberapa dekade berikutnya. Para sejarawan masih memperdebatkan seberapa besar kehidupan sehari-hari, terutama di pedesaan, berubah setelah 1912. Hal ini menunjukkan betapa hasilnya bergantung pada siapa yang memegang kekuasaan.
Apa yang sering ditanyakan dalam ujian
Soal ujian biasanya menguji tiga hal: penyebab, tokoh kunci, dan hasil. Untuk penyebab, bersiaplah menjawab tentang penghapusan ujian pegawai negeri, krisis kereta api, dan ganti rugi kepada asing. Untuk tokoh, pahami perbedaan antara Sun Yat-sen, yang memimpin gerakan revolusioner, dan Yuan Shikai, yang kemudian mengambil alih kursi presiden. Untuk hasil, ingat tanggal berdirinya republik dan turun takhtanya kaisar. Soal bergaya AP sering meminta kamu menjelaskan makna peristiwa ini: revolusi mengakhiri kekuasaan kekaisaran, tetapi tidak menciptakan negara yang stabil. Jawaban terbaik menghubungkan sebab dengan akibat, misalnya reformasi yang datang terlambat membuat istana kehilangan dukungan, dan krisis kereta api membuka jalan bagi pemberontakan.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap 1912 sebagai awal demokrasi yang stabil. Republik memang didirikan, tetapi tahun-tahun awalnya penuh gejolak, dan masa panglima perang yang menyusul menunjukkan betapa jauhnya negara itu dari kondisi yang mapan.
Bacaan berikutnya
- Perebutan Konsesi di Tiongkok menunjukkan tekanan asing yang membentuk reformasi akhir Dinasti Qing.
- Sun Yat-sen dan Tiga Prinsip Rakyat menjelaskan gagasan dan kepemimpinan di balik gerakan revolusioner.
- Perang Candu Pertama (1839–1842) membahas konflik yang pertama kali memperlihatkan kelemahan militer Dinasti Qing.