Dalam lima menit
Balkan mendapat julukan “tong mesiu Eropa” karena beberapa kekaisaran, negara-negara baru yang merdeka, dan kekuatan besar yang saling bersaing bertemu di satu kawasan. Perselisihan di sana bisa menyeret kekuatan yang jauh, dan pada 1914 hal itu benar-benar terjadi. Halaman ini menjelaskan mengapa julukan tersebut melekat. Ini merupakan bagian dari panduan Perang Dunia I kami.
Makna julukan ini
“Tong mesiu” adalah metafora, bukan istilah diplomatik. Istilah ini menggambarkan tempat ketika percikan kecil bisa memicu ledakan besar. Di Balkan, tiga hal membuat percikan itu berbahaya: banyak kebangsaan yang hidup berdampingan, persaingan kekuatan besar, dan aliansi yang berjanji memberi dukungan.
Penyebab: mengapa Balkan menjadi tong mesiu Eropa
Selama berabad-abad, Kekaisaran Ottoman menguasai sebagian besar Semenanjung Balkan. Pada abad ke-19, Yunani, Serbia, Bulgaria, Rumania, dan bangsa lainnya satu per satu meraih kemerdekaan atau pemerintahan sendiri. Setiap negara baru menginginkan tanah tempat rakyatnya tinggal, dan sebagian besar tanah itu masih berada di bawah Ottoman atau di dalam wilayah Austria-Hongaria dan Rusia.
Agama dan bahasa menambah lapisan lain. Umat Kristen Ortodoks, Katolik, dan Muslim sering tinggal di kota yang sama, dan kelompok-kelompok itu tidak berbagi satu bahasa maupun satu gereja. Kebangsaan, keyakinan, dan ingatan lokal tidak selalu sejalan, sehingga sengketa atas satu desa bisa dengan cepat berubah menjadi sengketa atas seluruh provinsi.
Pemerintah Ottoman masih memegang kekuasaan secara nominal, tetapi tidak lagi mampu mempertahankan setiap provinsi, sehingga pemberontak lokal dan kekuatan asing mengisi kekosongan itu. Austria-Hongaria dan Rusia sama-sama ingin memperluas pengaruh. Rusia menganggap dirinya pelindung bangsa Slavia Ortodoks, sedangkan Austria-Hongaria khawatir pada negara Slavia yang kuat di perbatasan selatannya. Jerman mendukung Austria-Hongaria, dan Inggris serta Prancis terikat dengan Rusia melalui Triple Entente.
1878: Kongres Berlin
Setelah perang antara Rusia dan Kekaisaran Ottoman, Kongres Berlin menata ulang kawasan ini pada Juni dan Juli 1878. Kongres mengakui kemerdekaan Rumania, Serbia, dan Montenegro. Austria-Hongaria memperoleh hak untuk mengelola Bosnia dan Herzegovina, yang secara formal tetap milik Ottoman. Hasilnya adalah sebuah provinsi yang dijalankan oleh satu kekaisaran tetapi secara nominal masih terikat pada kekaisaran lain, dan celah inilah yang menjadi benih krisis 1908.
1908: aneksasi
Pada Oktober 1908 Austria-Hongaria secara resmi mencaplok Bosnia dan Herzegovina. Waktunya sering dikaitkan dengan Revolusi Turki Muda pada Juli 1908, yang memulihkan konstitusi Ottoman dan membuat kekaisaran tampak lebih aktif. Rusia meminta konferensi internasional untuk membahas perubahan itu, tetapi usulan tersebut tidak membuahkan hasil.
Serbia bereaksi paling keras. Banyak orang Serbia tinggal di Bosnia, dan para pemimpin Serbia berharap dapat menyatukan bangsa-bangsa Slavia Selatan. Rusia mendukung Serbia secara diplomatik tetapi belum siap berperang, sementara Jerman berdiri teguh di belakang Wina. Pada Maret 1909 Serbia menerima aneksasi itu. Rasa terhina ini memupuk nasionalisme Serbia dan mendorong kelompok rahasia yang ingin melawan Austria-Hongaria.
1912–1913: dua Perang Balkan
Pada Oktober 1912 Serbia, Bulgaria, Yunani, dan Montenegro membentuk Liga Balkan dan menyerang Kekaisaran Ottoman. Perang Balkan Pertama mengakhiri sebagian besar kekuasaan Ottoman di Eropa. Pada November 1912 Albania memproklamasikan kemerdekaan, langkah yang didukung Austria-Hongaria dan Italia; langkah itu menghalangi jalur Serbia menuju Laut Adriatik. Liga terbentuk sebagian karena setiap anggotanya ingin mendapat bagian dari tanah Ottoman sebelum anggota lain merebutnya.
Sekutu kemudian bertengkar soal pembagian rampasan perang. Perjanjian London pada Mei 1913 mengakhiri Perang Balkan Pertama, tetapi Bulgaria merasa dirugikan. Pada akhir Juni 1913 Bulgaria menyerang bekas sekutunya, Serbia dan Yunani, dan Rumania serta Kekaisaran Ottoman ikut bertempur. Pasukan Ottoman juga merebut kembali Edirne (Adrianopel) pada Juli. Perjanjian Bukarest, yang ditandatangani pada 10 Agustus 1913, memberi Serbia dan Yunani sebagian besar Makedonia.
Perang-perang ini juga menciptakan banyak pengungsi dan meninggalkan kebencian yang dalam di semua pihak. Serbia menjadi jauh lebih besar, dan Austria-Hongaria melihat Serbia yang lebih kuat sebagai ancaman langsung. Bagi Wina, persoalannya bukan lagi hanya Bosnia, melainkan seluruh keseimbangan kekuatan di Balkan.
Juni 1914: percikan di Sarajevo
Pada 28 Juni 1914, di Sarajevo, Gavrilo Princip, seorang nasionalis muda Bosnia-Serbia yang terkait dengan kelompok rahasia Serbia, menembak Archduke Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hongaria, dan istrinya, Sophie. Jerman sudah menjanjikan dukungan penuh kepada Austria-Hongaria pada awal Juli, janji yang sering disebut “cek kosong”. Wina menyalahkan pemerintah Serbia dan mengirim ultimatum pada 23 Juli.
Serbia menerima sebagian besar tuntutan tetapi tidak semuanya, dan Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Serbia pada 28 Juli. Rusia mulai memobilisasi pasukan untuk melindungi Serbia. Jerman menyatakan perang terhadap Rusia pada 1 Agustus dan terhadap Prancis pada 3 Agustus. Inggris masuk perang pada 4 Agustus setelah Jerman menginvasi Belgia. Dalam lima minggu sejak penembakan di Sarajevo, krisis regional telah berubah menjadi perang besar di Eropa.
Aliansi mengubah perselisihan lokal menjadi perang benua. Setiap kekuatan besar merasa wajib mendukung mitranya, sehingga satu sengketa menyeret seluruh benua. Itulah makna “tong mesiu” di sini: percikan kecil yang dinyalakan di kawasan tempat para rival sudah menunggu kesempatan.
Dampak
Pada 1918 kekaisaran Rusia, Jerman, dan Austria-Hongaria telah runtuh, dan Kekaisaran Ottoman menyusut tajam. Di Balkan muncul negara-negara baru, termasuk Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia, yang pada 1929 berganti nama menjadi Yugoslavia. Batas-batas yang ditarik setelah perang membuat banyak kelompok berada di sisi yang salah dari garis tersebut, dan kawasan ini terus menjadi sumber konflik sepanjang abad ke-20.
Ungkapan ini bertahan lebih lama daripada peristiwanya sendiri, karena ia menggambarkan sebuah pola. Setiap langkah tampak terbatas ketika terjadi, tetapi masing-masing membuat krisis berikutnya lebih mungkin. Itulah cerita yang disampaikan oleh julukan tersebut.
Yang biasanya ditanyakan dalam ujian
Soal ujian biasanya menghubungkan Balkan dengan penyebab perang yang lebih luas, dan poin utamanya adalah signifikansinya. Empat poin berikut paling sering muncul:
- Nasionalisme: bangsa-bangsa Balkan menginginkan negara sendiri, dan klaim mereka sering saling tumpang tindih.
- Persaingan kekuatan besar: Austria-Hongaria dan Rusia bersaing memperebutkan pengaruh ketika kekuasaan Ottoman melemah.
- Sistem aliansi: Triple Alliance dan Triple Entente mengubah krisis regional menjadi krisis benua.
- Rencana mobilisasi: begitu tentara mulai dimobilisasi, diplomasi punya ruang yang jauh lebih sempit.
Saat menulis jawaban, urutan yang jelas sangat membantu. Mulailah dari masalah Balkan, lanjutkan ke kemunduran Ottoman dan persaingan kekuatan besar, lalu akhiri dengan menunjukkan bagaimana aliansi mengubah krisis regional menjadi perang benua. Pastikan tanggalnya tepat: 1908 untuk aneksasi, 1912–1913 untuk Perang Balkan, dan Juni 1914 untuk Sarajevo.
Bacaan berikutnya
Halaman-halaman ini menunjukkan langkah berikutnya dalam cerita:
- Bagaimana Perang Dunia I Dimulai? Krisis Juli 1914 menelusuri minggu-minggu di antara pembunuhan di Sarajevo dan pecahnya perang.
- Di Mana Letak Balkan? Peta dan Negara-Negaranya menjelaskan negara-negara yang membentuk kawasan ini.
- Apa Itu Militerisme? Bagaimana Ia Mengarah ke Perang Dunia I menunjukkan bagaimana tentara dan rencana perang membentuk keputusan pada 1914.