Dalam lima menit: siapa Abraham Lincoln?
Abraham Lincoln adalah presiden ke-16 Amerika Serikat, menjabat dari Maret 1861 hingga wafat pada April 1865. Ia dikenang karena tiga hal: ia menjaga persatuan Uni selama Perang Saudara, mengubah perang itu menjadi perjuangan melawan perbudakan, dan meninggalkan beberapa pidato yang paling sering dikutip di negaranya. Lahir dari keluarga miskin di wilayah perbatasan, ia belajar hukum secara otodidak dan naik di dunia politik dengan menyatakan secara tenang dan terbuka bahwa perbudakan tidak boleh meluas ke wilayah baru.
Halaman ini mengikuti perjalanan hidupnya secara berurutan, lalu menjelaskan mengapa para sejarawan masih memperdebatkannya dan apa yang biasa ditanyakan dalam ujian. Halaman ini bagian dari panduan kami tentang Amerika Abad Ke-19.
Dari pondok kayu di Kentucky ke dunia hukum
Lincoln lahir pada 12 Februari 1809 di sebuah pondok kayu satu ruangan di Hardin County, Kentucky. Ayahnya, Thomas, seorang petani yang memindahkan keluarganya ke Indiana pada 1816 dan kemudian ke Illinois. Menurut pengakuannya sendiri di kemudian hari, Lincoln mengenyam pendidikan formal kurang dari setahun, dan ia menebusnya dengan membaca apa saja yang bisa dipinjam. Ibunya, Nancy, meninggal pada 1818 saat ia berusia sembilan tahun.
Sebagai pemuda, ia bekerja sebagai pengayuh perahu, penjaga toko, kepala kantor pos, dan juru ukur tanah di New Salem, Illinois. Ia memenangkan kursi di legislatif Illinois pada 1834 sebagai anggota Partai Whig, lulus sebagai pengacara pada 1836, dan pindah ke ibu kota negara bagian, Springfield, pada 1837. Pada 1842 ia menikahi Mary Todd; mereka memiliki empat putra, tetapi hanya yang sulung, Robert, yang hidup hingga dewasa. Dunia hukum membentuk gayanya: ia memecah argumen besar menjadi langkah-langkah sederhana dan berbicara dengan kalimat pendek yang jelas.
Ia menjabat satu periode di Dewan Perwakilan Rakyat AS (1847–1849). Ia mengkritik alasan Presiden Polk memulai Perang Meksiko–Amerika, yang membuatnya tidak populer di daerahnya, dan ia tidak mencalonkan diri lagi. Pada awal 1850-an ia sudah menjadi pengacara sukses yang tampaknya telah meninggalkan politik.
Mengapa pengacara kota kecil menjadi tokoh nasional
Yang menariknya kembali adalah Undang-Undang Kansas–Nebraska tahun 1854, yang membuka wilayah barat yang baru bagi kemungkinan perbudakan. Lincoln menyebut perbudakan sebagai kesalahan moral dan politik, dan ia ikut membangun Partai Republik yang baru. Tujuan utama partai itu adalah menghentikan perluasan perbudakan ke wilayah-wilayah baru, bukan menghapusnya seketika di tempat yang sudah ada.
Pada 1858 ia maju dalam pemilihan Senat AS di Illinois melawan Stephen Douglas dari Partai Demokrat. Saat menerima pencalonan, ia mengatakan, “Rumah yang terpecah belah tidak akan dapat berdiri,” mengingatkan bahwa negara tidak bisa terus setengah budak dan setengah bebas. Tujuh debat Lincoln–Douglas pada musim gugur itu diberitakan di seluruh negeri. Lincoln kalah dalam perebutan kursi Senat, tetapi namanya dikenal luas.
Pada Februari 1860 ia menyampaikan pidato panjang yang diriset dengan cermat di Cooper Union, New York, yang berargumen bahwa para pendiri bangsa menerima pembatasan atas perbudakan. Pidato itu membantunya meraih pencalonan Partai Republik pada Mei. Suara Partai Demokrat terpecah dalam pemilihan 6 November 1860, dan Lincoln memenangkan kursi presiden dengan sekitar 40 persen suara rakyat, tanpa menang di satu pun negara bagian Selatan.
Pemisahan diri dan pecahnya perang
Tujuh negara bagian Selatan menyatakan memisahkan diri antara Desember 1860 dan Februari 1861, dimulai dari South Carolina, bahkan sebelum Lincoln dilantik pada 4 Maret 1861. Mereka membentuk Negara-Negara Konfederasi Amerika. Dalam pidato pelantikan pertamanya, Lincoln mengatakan ia tidak akan mengusik perbudakan di tempat yang sudah ada, tetapi akan mempertahankan properti federal dan membela Uni.
Pada 12 April 1861 meriam Konfederasi menembaki Fort Sumter di pelabuhan Charleston, dan Perang Saudara pun dimulai. Lincoln menyerukan 75.000 sukarelawan, dan empat negara bagian lagi (Virginia, Arkansas, Tennessee, dan North Carolina) memisahkan diri. Empat negara bagian budak, yaitu Delaware, Maryland, Kentucky, dan Missouri, tetap berada di pihak Uni, dan Lincoln bekerja hati-hati agar mereka bertahan. Politik negara bagian perbatasan ini menjelaskan banyak keputusan awalnya.
Dua tahun pertama berjalan buruk bagi Uni di front timur. Lincoln berganti beberapa panglima sebelum menetapkan Ulysses S. Grant, yang ia angkat sebagai jenderal tertinggi pada Maret 1864. Ia juga mengambil langkah-langkah kontroversial di masa perang, termasuk menangguhkan habeas corpus di beberapa wilayah, yang oleh para pengkritik disebut penyalahgunaan kekuasaan.
Emansipasi dan Pidato Gettysburg
Pada awalnya Lincoln menyebut tujuan perang adalah menyelamatkan Uni. Seiring perang berlarut-larut, membebaskan orang-orang yang diperbudak menjadi tujuan moral sekaligus alat militer: langkah itu melemahkan tenaga kerja Konfederasi dan memungkinkan pria kulit hitam bergabung dengan tentara Uni. Setelah Pertempuran Antietam pada September 1862, ia mengeluarkan Proklamasi Emansipasi pendahuluan, dan versi akhirnya berlaku pada 1 Januari 1863. Proklamasi itu menyatakan orang-orang yang diperbudak di wilayah yang dikuasai Konfederasi bebas. Isinya tidak mencakup negara bagian perbatasan atau wilayah yang sudah berada di bawah kendali Uni. Sekitar 180.000 prajurit kulit hitam bertugas di tentara Uni, pasukan yang berarti besar pada 1864. Baca selengkapnya di Proklamasi Emansipasi (1863).
Pada 19 November 1863 ia berpidato pada peresmian pemakaman prajurit di Gettysburg, Pennsylvania, tempat Uni memenangi pertempuran besar pada Juli. Pidato itu berlangsung dua atau tiga menit dan terdiri dari sekitar 270 kata. Di dalamnya ia menggambarkan bangsa ini dibangun di atas gagasan bahwa semua manusia diciptakan setara, dan ia mengajak para pendengar memastikan bahwa “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak akan lenyap dari muka bumi.” Hanya sedikit teks lisan dalam sejarah Amerika yang sesering itu dikutip.
Pemilihan ulang, Amendemen Ketiga Belas, dan pembunuhan
Pada musim panas 1864 Lincoln mengira ia akan kalah dalam pemilihan ulang. Kemenangan-kemenangan Uni, terutama direbutnya Atlanta pada September, mengubah suasana, dan ia mengalahkan Jenderal George McClellan pada November. Lincoln mendorong Kongres meloloskan Amendemen Ketiga Belas yang menghapus perbudakan. DPR menyetujuinya pada 31 Januari 1865, dan negara-negara bagian meratifikasinya pada Desember 1865, delapan bulan setelah ia meninggal.
Pidato Pelantikan Keduanya pada 4 Maret 1865 singkat dan muram. Ia menyebut perbudakan sebagai penyebab perang dan mengajak bangsa melangkah maju “tanpa dendam kepada siapa pun, dengan kasih untuk semua.” Pada 9 April 1865 Jenderal Robert E. Lee menyerahkan Tentara Virginia Utara kepada Grant di Appomattox Court House.
Pada malam 14 April 1865 Lincoln menonton sebuah drama di Ford’s Theatre, Washington. John Wilkes Booth, aktor pendukung Konfederasi, menembak kepalanya. Lincoln meninggal keesokan paginya, 15 April, pada usia 56 tahun. Ia presiden AS pertama yang dibunuh. Tentara menewaskan Booth pada 26 April. Kereta jenazah Lincoln menempuh perjalanan hampir dua minggu menuju Springfield, Illinois, tempat ia dimakamkan.
Mengapa sejarawan masih memperdebatkannya
Lincoln biasanya dimasukkan di antara presiden terbesar, tetapi sejarawan tidak memandangnya sebagai pahlawan yang sederhana. Sebelum perang ia mengatakan tidak akan menyentuh perbudakan di tempat yang sudah ada, dan untuk sementara waktu ia mendukung kolonisasi, yaitu gagasan memukimkan kembali warga kulit hitam Amerika yang dibebaskan ke luar negeri, yang kemudian ia tinggalkan. Penggunaan kekuasaannya di masa perang tetap kontroversial, termasuk penangguhan habeas corpus dan persetujuannya atas eksekusi 38 pria Dakota pada Desember 1862, setelah perang di Minnesota; ia memangkas daftar dari 303 vonis mati.
Banyak sejarawan juga melihat seorang pemimpin yang mengubah pandangannya ketika peristiwa, dan tindakan warga kulit hitam sendiri, mendorongnya maju. Pada April 1865 ia sudah secara terbuka menyatakan dukungan atas hak pilih bagi sebagian pria kulit hitam. Di dalam negeri, Homestead Act, Morrill Act, dan Pacific Railway Act tahun 1862 meletakkan fondasi bagi permukiman di wilayah barat, universitas negeri, dan jalur kereta api lintas benua.
Apa yang ditanyakan dalam ujian
Soal bergaya AP berfokus pada signifikansi serta sebab dan akibat. Bersiaplah menjelaskan:
- Mengapa Undang-Undang Kansas–Nebraska melahirkan Partai Republik dan membawa Lincoln kembali ke politik.
- Bagaimana pemilihan 1860 berujung pada pemisahan diri, dan apa yang diubah oleh Fort Sumter.
- Apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh Proklamasi Emansipasi.
- Mengapa Pidato Gettysburg memberi perang tujuan yang lebih luas, yaitu kesetaraan dan kelangsungan pemerintahan sendiri.
- Undang-undang 1862: Homestead Act, Morrill Land-Grant Act, dan Pacific Railway Act.
- Apa perbedaan Amendemen Ketiga Belas (1865) dengan Proklamasi (1863).
Bacaan berikutnya
Siapa yang Memenangi Perang Saudara, dan Mengapa? menjelaskan alasan militer dan ekonomi di balik kemenangan Uni. Proklamasi Emansipasi (1863) mengupas isi dokumen itu dan bagaimana ia mengubah jalannya perang. Doktrin Monroe (1823) membahas gagasan kebijakan luar negeri yang membentuk cara Amerika Serikat menanggapi campur tangan Eropa di benua Amerika, termasuk intervensi Prancis di Meksiko semasa Perang Saudara.