Sejarah Saigon dalam lima menit
Sejarah Saigon bukanlah kisah lurus tentang pergantian nama kota. Ini adalah kisah sebuah kawasan yang dibentuk oleh jalur air, perpindahan penduduk, persaingan kekuasaan politik, pemerintahan kolonial, dan perang. Di Delta Mekong, komunitas dagang telah hidup jauh sebelum Saigon menjadi permukiman penting. Sejak abad ke-17, pengaruh Nguyễn meluas ke selatan. Pasukan Prancis menduduki Saigon pada 1859, lalu kota itu menjadi ibu kota Republik Vietnam, yang sering disebut Vietnam Selatan. Pada 30 April 1975, pemerintah tersebut menyerah ketika pasukan dari utara memasuki kota. Pada Juli 1976, Majelis Nasional negara yang telah bersatu menamainya Kota Ho Chi Minh.
Arti kata “Saigon” bergantung pada masa dan orang yang menggunakannya: kata itu dapat merujuk pada kota bersejarah, bekas ibu kota, atau kawasan perkotaan pusat di dalam munisipalitas yang lebih luas saat ini. Nama resminya adalah Kota Ho Chi Minh. “Saigon” tetap lazim digunakan dalam tulisan sejarah dan percakapan sehari-hari. Untuk memahami sejarah nasionalnya, mulailah dengan sejarah Vietnam dari masa dinasti, kekaisaran, hingga perang, lalu ikuti perubahan peran kota ini di dalamnya.
Sebelum Saigon: Delta Mekong dan Óc Eo
Sejarah Delta Mekong bermula jauh sebelum kota modern tumbuh di sana. Di Óc Eo, yang kini berada di Provinsi An Giang, para arkeolog menemukan bukti permukiman dan pusat perdagangan yang terhubung dengan jaringan luas Asia Tenggara kuno. Situs ini dikaitkan dengan Funan, suatu entitas politik yang dikenal sebagian melalui catatan Tiongkok dan penelitian arkeologis. UNESCO menjelaskan bahwa kawasan Óc Eo–Ba Thê merupakan bagian dari jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Tenggara dengan kawasan lebih jauh di barat dan utara pada abad-abad awal Masehi.
Óc Eo bukanlah Saigon dalam bentuk awal: letaknya jauh dari kota Ho Chi Minh modern. Arti pentingnya bersifat regional. Jalur air dan pesisir mendukung pertanian, perjalanan, dan perdagangan, serta menghubungkan komunitas di seluruh delta dan wilayah sekitarnya. Masyarakat, perbatasan, dan struktur politik Funan kuno masih menjadi bahan kajian sejarah; satu peta modern tidak dapat menggambarkannya secara sederhana.
Pada abad-abad berikutnya, komunitas dan pengaruh politik Khmer meluas ke sejumlah bagian delta. Kawasan di sekitar Saigon sekarang dikenal dengan nama Khmer Prey Nokor. Seiring waktu, sejarah Cham, Khmer, Vietnam, dan Tiongkok bertemu melalui permukiman, perdagangan, dan perubahan politik. Perkembangannya bukan urutan sederhana yang membuat satu penduduk lenyap lalu digantikan oleh penduduk lain. Komunitas yang berbeda terus membentuk kawasan tersebut.
Gia Định dan berkembangnya pusat di selatan
Sejak abad ke-17, migrasi orang Vietnam dan pengaruh politik Nguyễn bergerak ke selatan, memasuki wilayah yang telah dihuni komunitas Khmer. Pada 1698, Nguyễn Hữu Cảnh membentuk struktur administrasi untuk para penguasa Nguyễn di kawasan Gia Định. Tahun ini kerap dipakai sebagai tonggak sejarah pemerintahan kota Saigon, tetapi yang ditandainya adalah perkembangan administrasi, bukan awal kehidupan manusia di sana.
Saigon dan Chợ Lớn di dekatnya tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Banyak warga dan pedagang Tionghoa tinggal di Chợ Lớn. Sungai dan pelabuhan menghubungkan kawasan perkotaan itu dengan daerah penghasil beras dan jalur-jalur di delta. Hubungan tersebut menjadikan selatan penting secara ekonomi, meskipun Dinasti Nguyễn, yang berdiri pada 1802, memerintah dari Huế. Saigon bukan ibu kota kekaisaran, tetapi berkembang menjadi pusat penting di selatan.
Pemberontakan Tây Sơn mengguncang kekuasaan Nguyễn pada akhir abad ke-18. Nguyễn Ánh, yang kemudian menjadi Kaisar Gia Long, menggunakan pangkalan di selatan untuk membangun kembali kekuasaannya. Setelah mendirikan Dinasti Nguyễn pada 1802, ia memerintah dari Huế, sementara kawasan selatan tetap menjadi bagian penting kerajaan. Pengaruh kota ini berasal dari letaknya di delta yang produktif dan terhubung, serta dari perannya dalam pemerintahan.
Penaklukan Prancis dan pemerintahan kolonial
Pasukan Prancis menyerang Đà Nẵng pada 1858 dan merebut Saigon pada 1859. Berdasarkan Perjanjian Saigon 1862, istana Nguyễn menyerahkan tiga provinsi di bagian timur kepada Prancis. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas kendali Prancis. Pada 1887, Prancis membentuk Uni Indocina Prancis, yang pada awalnya menyatukan koloni dan protektoratnya di Vietnam dan Kamboja; Laos bergabung kemudian. Vietnam selatan diperintah sebagai koloni Cochinchina, sebutan politik pada masa kolonial, bukan nama abadi bagi kawasan tersebut.
Saigon menjadi pusat administrasi kolonial Prancis. Pelabuhan, jalan, rel kereta, kantor pemerintahan, dan bangunan bergaya Eropa mengubah tata kota. Kota itu juga tumbuh berkat pekerjaan dan kegiatan perdagangan warga Vietnam dan Tionghoa. Semua perubahan ini berlangsung di bawah kekuasaan kolonial yang tidak setara: wewenang politik berada di tangan pemerintah kolonial, dan kebijakan ekonomi melayani kepentingan kekaisaran. Warga menanggapinya dengan beragam cara: menyesuaikan diri dengan lembaga yang ada, membangun usaha dan komunitas, berunding dengan penguasa, atau menentang pemerintahan kolonial.
Selama Perang Dunia II, Jepang menduduki Indocina, sementara pejabat kolonial Prancis pada awalnya tetap bertugas. Pada Maret 1945, pasukan Jepang menyingkirkan pemerintahan Prancis. Setelah Jepang menyerah, Việt Minh memproklamasikan kemerdekaan di Hanoi, lalu pertempuran kembali pecah ketika Prancis berusaha memulihkan kekuasaannya. Kekalahan Prancis di Điện Biên Phủ pada Mei 1954 diikuti Konferensi Jenewa dan kesepakatan tentang garis pengelompokan militer sementara di dekat garis paralel ke-17. Kesepakatan itu tidak menetapkan perbatasan internasional yang permanen.
Saigon sebagai ibu kota, 1954–1975
Pemerintahan yang terpisah muncul di utara dan selatan. Pada 1955, Negara Vietnam berubah menjadi Republik Vietnam, dengan Saigon sebagai ibu kotanya. Republik Demokratik Vietnam memerintah di utara. Pembagian negara itu tetap dipersengketakan, dan penyelesaian politik nasional yang dijanjikan tidak pernah terlaksana. Konflik berkembang menjadi perang berkepanjangan yang melibatkan pasukan Vietnam dan kekuatan-kekuatan asing besar.
Saigon meluas sebagai pusat pemerintahan selatan dan tempat tujuan orang-orang yang mengungsi akibat konflik. Sikap politik warganya beragam: sebagian mendukung pemerintah atau bekerja di lembaganya, sebagian menentangnya, dan banyak yang berfokus pada kehidupan sehari-hari. Ruang publik, lingkungan permukiman, dan lembaga kota mencerminkan tekanan perang sekaligus kegiatan perdagangan.
Serangan Tết 1968 membawa pertempuran ke Saigon dan kota-kota lain. Serangan itu tidak berujung pada pendudukan militer kota secara berkelanjutan, tetapi mengguncang pandangan publik tentang arah perang. Pada tahun-tahun berikutnya, pertempuran terus berlangsung di seluruh negeri, sementara perundingan dan perubahan keterlibatan pihak asing turut membentuk konflik.
Pada 30 April 1975, pasukan utara dan Pemerintahan Revolusioner Sementara memasuki Saigon, dan Republik Vietnam menyerah. Dalam tulisan berbahasa Inggris, peristiwa ini lazim disebut Jatuhnya Saigon; peringatan resmi Vietnam kerap menekankan pembebasan dan penyatuan kembali. Nama-nama tersebut mencerminkan kenangan politik yang berbeda tentang satu titik balik yang sama. Berakhirnya pemerintahan Republik Vietnam tidak menghapus pengalaman jutaan orang yang hidup melewati konflik maupun dampak pengungsian dan perubahan politik.
Mengapa Saigon menjadi Kota Ho Chi Minh
Setelah penyatuan kembali, pada 2 Juli 1976 Majelis Nasional mengubah nama resmi kota itu untuk menghormati pemimpin revolusioner Hồ Chí Minh. Perubahan tersebut terjadi setelah Republik Vietnam menyerah dan negara itu secara resmi bersatu kembali. “Kota Ho Chi Minh” kini menjadi nama resmi munisipalitas tersebut. “Saigon” tetap digunakan untuk menyebut kota bersejarah dan, dalam percakapan umum, kawasan perkotaan pusatnya.
Asal-usul kata “Saigon” masih diperdebatkan. Ada beberapa penjelasan yang beredar, tetapi tak satu pun sebaiknya disajikan sebagai makna yang sudah pasti. Nama-nama tersebut juga membawa kaitan sejarah: “Saigon” dapat merujuk pada masa atau ingatan tertentu, sementara “Kota Ho Chi Minh” adalah nama resmi yang ditetapkan setelah penyatuan kembali. Untuk memahami kawasan ini, kita perlu menyadari bahwa nama dapat berubah seiring perubahan kekuasaan politik dan ingatan publik.
Hal yang ditanyakan dalam ujian
Untuk menjawab soal sejarah bergaya AP, hubungkan titik balik setempat dengan proses yang lebih luas. Bukti dari Óc Eo menunjukkan adanya perdagangan regional sejak masa awal; administrasi Gia Định pada 1698 menandai perluasan kekuasaan Nguyễn; penaklukan Prancis menggambarkan imperialisme abad ke-19; dan periode 1954 hingga 1975 memperlihatkan bagaimana pembagian Vietnam berkembang menjadi konflik internasional yang berkepanjangan. Bedakan tanggal dan istilah politik dengan cermat: Cochinchina adalah wilayah kolonial Prancis, sedangkan Republik Vietnam adalah negara di selatan dari 1955 hingga 1975. Garis pengelompokan militer sementara di dekat garis paralel ke-17 pada 1954 tidak dimaksudkan sebagai perbatasan nasional permanen.
Bacaan selanjutnya
Dinasti Vietnam dan pemerintahan Prancis menjelaskan latar belakang politik yang lebih panjang. Baca Perang Vietnam untuk mengikuti konflik dari 1955 hingga 1975. Jatuhnya Saigon membahas peristiwa 30 April 1975, sedangkan Funan dan Óc Eo mengulas sejarah lama delta.