Vietnam Selatan dalam lima menit: apa itu?
Vietnam Selatan adalah sebutan umum untuk Republik Vietnam, negara yang berpusat di Saigon dari 1955 hingga 1975. Negara itu mengklaim mewakili bagian selatan Vietnam setelah negara tersebut terpecah pasca-Perang Indochina Pertama. Kisahnya bukan sekadar babak dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat: para pemimpin, tentara, komunitas agama, jurnalis, mahasiswa, dan keluarga Vietnam turut membentuk politik dan masyarakatnya selama perang berkepanjangan.
Republik ini dimulai di bawah Presiden Ngô Đình Diệm, yang menyingkirkan mantan kaisar Bảo Đại dari kekuasaan pada 1955. Pemerintah Diệm membangun negara antikomunis, tetapi menghadapi perlawanan dan kesulitan memperoleh legitimasi politik yang luas. Setelah kudeta pada 1963 dan beberapa tahun pemerintahan militer, konstitusi baru dan pemilu mengantarkan Nguyễn Văn Thiệu menjadi presiden pada 1967. Perang terus berlanjut, sementara dukungan Amerika Serikat sangat memengaruhi posisi militer dan ekonomi pemerintah. Republik ini berakhir ketika pasukan Vietnam Utara memasuki Saigon pada 30 April 1975.
Untuk menempatkan negara ini dalam sejarah kawasan yang lebih panjang, baca Saigon dan Vietnam Selatan: Sejarah dari Funan hingga 1975. Untuk memahami pemerintahan lain yang mengklaim mewakili Vietnam, baca Vietnam Utara: Republik Demokratik Vietnam.
Mengapa Republik ini muncul
Pembagian Vietnam terjadi setelah kekalahan pasukan Prancis dalam Perang Indochina Pertama. Di Jenewa pada 1954, para perunding menyepakati gencatan senjata dan garis pemisah militer sementara di dekat garis lintang ke-17. Republik Demokratik Vietnam yang dipimpin Hồ Chí Minh memerintah wilayah di sebelah utara garis itu. Negara Vietnam, yang terkait dengan Bảo Đại dan perdana menterinya, Ngô Đình Diệm, mengelola wilayah selatan. Kesepakatan tersebut merencanakan pemilu nasional untuk menyatukan kembali negara pada 1956, tetapi pemilu itu tidak terlaksana. Amerika Serikat dan Negara Vietnam tidak menandatangani deklarasi final.
Pada Oktober 1955, Diệm mengadakan referendum untuk menentukan apakah Bảo Đại tetap menjadi kepala negara. Hasil resmi menyatakan Diệm menang telak, tetapi laporan diplomatik Amerika Serikat saat itu menyebut hasilnya sulit dinilai dan mencatat kampanye pemerintah yang gencar menentang Bảo Đại. Pada 26 Oktober, Diệm memproklamasikan Republik Vietnam dan menjadi presiden pertamanya. Pemungutan suara dan proklamasi itu merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membentuk pemerintahan tersendiri di selatan, bukan sekadar pergantian kekuasaan dari pemerintah nasional yang stabil.
Negara baru ini harus membangun lembaga pemerintahan, menegaskan kemandiriannya, dan menghadapi lawan-lawan komunis. Negara ini sangat antikomunis dan menerima dukungan besar dari Amerika Serikat, tetapi kehidupan politiknya tidak bisa disederhanakan sebagai kendali asing semata. Berbagai kelompok politik bersaing, organisasi keagamaan berpengaruh, dan pejabat serta warga berdebat tentang bentuk bangsa Vietnam yang seharusnya diwujudkan oleh Republik. Ulasan tentang Perjanjian Jenewa dan garis lintang ke-17 menjelaskan kesepakatan yang membentuk titik awal ini.
Republik Pertama dan krisis 1963
Pemerintahan Diệm memusatkan kekuasaan pada presiden dan jaringan politik keluarganya. Pemerintah mendorong pembangunan nasional dan antikomunisme, sementara para pengkritik mempersoalkan pembatasan terhadap oposisi politik serta pemusatan wewenang. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, perlawanan bersenjata meningkat. Front Pembebasan Nasional, yang dibentuk pada 1960 dan kerap disebut Viet Cong, melawan pemerintah selatan; Vietnam Utara mendukung pemberontakan itu. Jadi, konflik ini melibatkan persaingan gagasan politik di antara orang Vietnam sekaligus campur tangan kekuatan luar.
Ketegangan agama dan politik tampak jelas pada 1963. Aksi protes umat Buddha menentang kebijakan pemerintah dan perlakuan terhadap komunitas Buddha. Krisis itu merusak dukungan terhadap Diệm di dalam negeri dan di luar negeri. Pada 1 November, para perwira militer melancarkan kudeta; Diệm dan saudaranya, Ngô Đình Nhu, terbunuh keesokan harinya. Kudeta tersebut menggulingkan presiden, tetapi tidak menghasilkan penyelesaian politik yang bertahan lama. Beberapa pemerintahan militer silih berganti, dengan pergantian kepemimpinan berulang dan tekanan perang yang terus berlangsung.
Intinya, kudeta 1963 sekaligus menandai akhir dan awal sebuah babak. Kudeta itu mengakhiri Republik Pertama Diệm, tetapi tidak mengakhiri Republik Vietnam ataupun perang. Peristiwa itu membuka masa ketidakpastian politik ketika para pemimpin militer, politikus sipil, kelompok agama, dan warga lainnya berusaha memengaruhi arah negara.
Republik Kedua: pemilu, perang, dan masyarakat
Majelis konstituante menyusun konstitusi baru, lalu Republik mengadakan pemilu nasional pada 1967. Nguyễn Văn Thiệu menjadi presiden dan Nguyễn Cao Kỳ menjadi wakil presiden. Sejarawan sering menyebut periode 1967 hingga 1975 sebagai Republik Kedua. Pemerintahannya memiliki lembaga konstitusional dan menyelenggarakan pemilu, tetapi beroperasi dalam keadaan perang dan sangat bergantung pada kekuatan militer. Persaingan politik berlangsung berdampingan dengan pembatasan, pemaksaan, dan tekanan konflik yang luar biasa.
Serangan Tet pada 1968 menghadirkan serangan terkoordinasi di berbagai kota dan permukiman di seluruh Vietnam Selatan. Pasukan Vietnam Utara dan Front Pembebasan Nasional tidak menguasai sebagian besar tempat yang mereka serang, tetapi skala dan jangkauan serangan itu menggoyahkan pernyataan resmi bahwa perang hampir dimenangkan. Pertempuran memengaruhi kehidupan sehari-hari jauh dari garis depan: keluarga-keluarga mengungsi, kota-kota menampung orang yang melarikan diri dari pertempuran, dan warga menghadapi wajib militer, rasa tidak aman, kehilangan, serta perpecahan politik.
Republik ini juga merupakan masyarakat dengan lembaga dan kehidupan budayanya sendiri. Surat kabar, universitas, penerbit, organisasi keagamaan, dan dunia musik Saigon menjadi bagian dari ruang publik yang aktif, meski tertekan oleh perang. Sejarah ini penting karena gambaran Vietnam Selatan sebagai bentukan Amerika semata dapat menghapus pilihan dan karya warganya. Namun, mengakui peran warga setempat tidak menghilangkan ketergantungan pemerintah pada bantuan militer dan ekonomi Amerika Serikat, maupun keterbatasan dan penyalahgunaan dalam sistem politiknya. Keduanya perlu ada dalam uraian yang seimbang.
Dari perjanjian Paris hingga jatuhnya Saigon
Perjanjian Perdamaian Paris ditandatangani pada 27 Januari 1973. Di antara ketentuannya, perjanjian itu mengatur gencatan senjata dan penarikan pasukan tempur Amerika Serikat. Namun, perjanjian tersebut tidak menyelesaikan konflik politik antara Republik Vietnam dan pasukan yang dipimpin kaum komunis, sehingga pertempuran berlanjut. Karena itu, perjanjian ini menjadi titik balik keterlibatan Amerika Serikat, tetapi bukan akhir perang Vietnam yang sederhana.
Pada 1975, pasukan Vietnam Utara bergerak maju melalui wilayah selatan. Tentara dan pemerintah Republik menghadapi kekalahan militer yang cepat serta kehilangan wilayah yang luas. Thiệu mengundurkan diri pada 21 April. Dương Văn Minh menjadi presiden pada hari-hari terakhir. Pada 30 April, pasukan Vietnam Utara memasuki Saigon dan Minh mengumumkan penyerahan diri. Republik Vietnam berhenti berfungsi sebagai pemerintahan. Vietnam secara resmi dipersatukan kembali sebagai Republik Sosialis Vietnam pada 1976.
Jatuhnya Republik juga mengawali babak baru bagi jutaan orang. Sebagian warga Vietnam meninggalkan negeri sebagai pengungsi; yang lain tetap tinggal dan menjalani perubahan politik serta sosial besar. Bagi banyak keluarga, berakhirnya negara itu berarti perpisahan, pengungsian, atau pilihan sulit demi keselamatan dan rasa memiliki. Garis waktu politik yang ringkas tidak seharusnya meratakan pengalaman yang berbeda-beda ini menjadi satu kisah kemenangan atau kekalahan.
Memahami Vietnam Selatan berdampingan dengan Vietnam Utara
Vietnam Selatan biasanya merujuk pada Republik Vietnam, negara yang berpusat di Saigon dan berdiri pada 1955. Vietnam Utara merujuk pada Republik Demokratik Vietnam, yang diproklamasikan pada 1945 dan dipimpin Hồ Chí Minh. Kesepakatan Jenewa 1954 menetapkan garis demarkasi militer sementara di dekat garis lintang ke-17; kesepakatan itu tidak menetapkan perbatasan internasional permanen ataupun membentuk Republik Vietnam. Republik tersebut baru diproklamasikan pada tahun berikutnya. Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa istilah “Vietnam Selatan” dapat berarti wilayah ataupun negara yang memerintah wilayah itu, tergantung konteksnya.
Perjanjian Perdamaian Paris pada 1973 mengurangi keterlibatan militer langsung Amerika Serikat, tetapi tidak mengakhiri pertempuran antara pasukan Vietnam. Republik itu runtuh pada 1975, lalu penyatuan kembali negara berlangsung pada 1976. Agar mendapat gambaran seimbang, perhatikan persaingan tujuan politik kedua pemerintahan, keterlibatan asing, serta pengalaman beragam orang yang hidup di tengah konflik. Perjanjian Jenewa dan garis lintang ke-17 menjelaskan awal pembagian sementara tersebut.
Bacaan lanjutan
Vietnam Utara: Republik Demokratik Vietnam menjelaskan negara saingannya dan tujuan politiknya. Ngô Đình Diệm: Presiden Pertama Vietnam Selatan membahas pemimpin yang mendirikan Republik tersebut. Perjanjian Jenewa dan Garis Lintang ke-17 menguraikan kesepakatan 1954 yang mendahului pembagian. Untuk memahami konteks kawasan yang lebih luas, lanjutkan dengan Saigon dan Vietnam Selatan: Sejarah dari Funan hingga 1975.