Lima menit memahami kapal cap merah dan Vietnam
Kapal cap merah adalah kapal dagang yang membawa izin resmi Jepang ke pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara. Segel vermilion pada izin itu memberi pengakuan politik terhadap pelayaran, tetapi kapal dan muatannya dimiliki pedagang, bukan armada pemerintah. Arsip Nasional Jepang menyebut bahwa dari 1604 hingga 1639, 350 kapal menyeberangi lautan menuju Asia Tenggara. Halaman bahasa Inggrisnya menyebut 130 kapal berdagang dengan Vietnam, sedangkan halaman bahasa Jepang menyebut 130 pelayaran ke Vietnam. Karena istilah yang dipakai berbeda, kedua angka itu tidak boleh dianggap memakai satuan yang sama.
Perdagangan tersebut menghubungkan Jepang dengan kawasan yang batas politik dan namanya berbeda dari masa kini. Sumber sezaman memakai istilah seperti Annam, Cochinchina, Quinam, dan Tonkin untuk tempat atau konteks politik yang berlainan. Hoi An, yang dalam sumber lama juga disebut Faifo, merupakan pelabuhan besar di Vietnam tengah dan terhubung dengan wilayah kekuasaan para penguasa Nguyễn. Pedagang Jepang tinggal dan bekerja di sana bersama penduduk Vietnam serta pedagang dari kawasan lain di Asia dan Eropa. Komunitas Jepang tumbuh di sebuah pelabuhan Vietnam; komunitas itu tidak memerintah kota.
Pelayaran ini merupakan bagian dari jaringan maritim yang luas. Perak, tembaga, belerang, dan pedang dibawa dari Jepang ke selatan; sutra mentah, kain sutra, kapas, dan barang lain bergerak ke arah sebaliknya. Barang dapat berpindah tangan beberapa kali, jadi perdagangan ini bukan sekadar pertukaran langsung antara dua negara modern. Para penguasa setempat, warga pelabuhan, penerjemah, awak kapal, dan pedagang ikut menentukan apa yang diperdagangkan dan ke mana barang itu dibawa.

Catatan terpisah yang menghitung 356 izin untuk 1604–1635 membagi tujuan pelayaran menurut kawasan: Vietnam tengah tercatat 87 kali, Filipina dan Siam masing-masing 56, Kamboja 44, dan Tonkin 37. Angka-angka ini menghitung izin dalam periode yang berbeda, bukan satuan yang sama dengan angka 130 dari Arsip Nasional. Dalam catatan itu, Vietnam tengah adalah tujuan tersering di antara wilayah yang dihitung. Hal ini membantu menjelaskan pentingnya kawasan tersebut dalam kisah ini.
Mengapa pedagang Jepang berlayar ke selatan
Pada akhir abad ke-16, para pedagang Jepang mencari mitra dagang di Asia Timur bagian selatan di tengah pembatasan kegiatan dagang Jepang dengan Tiongkok Ming. Pelabuhan-pelabuhan di kawasan itu menawarkan akses ke barang, pembeli, dan jalur lanjutan. Pihak berwenang Jepang, termasuk Keshogunan Tokugawa dan para penguasa daerah, menerbitkan surat izin bersegel merah kepada pedagang tertentu. Izin itu menandai pedagang yang mendapat otorisasi dan membantu membedakan pelayaran resmi dari penyelundupan atau pembajakan. Dengan cara itu, pihak berwenang dapat mengaitkan kegiatan dagang dengan izin politik.
Izin bersegel merah tidak menjamin perjalanan yang aman atau keuntungan. Pedagang tetap membutuhkan kapal, awak, modal, kenalan setempat, dan pemahaman tentang kondisi pelabuhan yang berubah-ubah. Pelayaran menghadapi bahaya di laut sekaligus risiko bisnis: harga barang bisa berubah, kapal mungkin tidak menemukan pembeli, dan aturan politik dapat berganti. Segel itu penting karena mencatat adanya otorisasi, bukan karena menghilangkan ketidakpastian.
“Vietnam” adalah sebutan modern yang praktis untuk artikel ini, tetapi istilah tersebut dapat menyamarkan perpecahan pada masa itu. Keluarga Trịnh berkuasa di utara, sedangkan para penguasa Nguyễn memerintah wilayah tengah dari pusat kekuasaan di sekitar Huế. Batas negara yang ada sekarang belum terbentuk dalam wujud yang sama. Nama seperti Annam atau Cochinchina harus dipahami sesuai dokumen yang menggunakannya; nama-nama itu bukan sebutan yang bisa saling menggantikan untuk satu wilayah yang selalu sama. Latar kawasan ini juga menjadi bagian dari kisah dinasti-dinasti Vietnam dan pemerintahan Prancis.
Letak Hoi An membantu kota itu berkembang sebagai pelabuhan yang ramai. Kota ini menghubungkan kapal-kapal yang datang lewat laut dengan jalur sungai dan pasar pedalaman di wilayah kekuasaan Nguyễn. Pedagang dan penduduk Vietnam merupakan bagian penting dari ekonomi dan kehidupan sehari-hari kota. Pedagang Jepang, Tiongkok, Portugis, dan lainnya juga singgah atau menetap di sana. Arti penting pelabuhan ini berasal dari berbagai jaringan yang saling bertemu, bukan dari satu komunitas asing yang bertindak sendirian.
Istilah nihonmachi, atau kota Jepang, menggambarkan komunitas permukiman dan perdagangan Jepang di dalam sebuah kota pelabuhan yang lebih besar. Istilah ini tidak berarti bahwa komunitas tersebut adalah koloni yang memerintah Hoi An. Para pendatang membutuhkan tempat tinggal dan penyimpanan barang, penerjemah, mitra yang memahami perdagangan setempat, serta cara untuk membangun kepercayaan. Kehidupan dagang mereka bergantung pada hubungan dengan orang Vietnam dan pedagang dari tempat lain. Arkeologi dan penelitian sejarah setempat juga membantu menempatkan komunitas Jepang dalam sejarah Vietnam tengah, alih-alih hanya sebagai episode ekspansi Jepang.
Perbedaan itu mengubah cara kita memahami kisah ini. Catatan perjalanan atau dokumen Jepang mungkin berfokus pada pelayaran, pedagang, atau izin. Namun, pelabuhan bukan sekadar titik tujuan di peta. Pelabuhan juga merupakan tempat penduduk merawat jalan, menjual perbekalan, menawar harga, dan menyesuaikan diri dengan kedatangan orang baru. Kota Jepang itu berada di dalam masyarakat Hoi An yang lebih luas, dibentuk oleh wilayah kekuasaan Nguyễn dan pekerjaan warga setempat.
Izin, kapal, dan hubungan politik
Arsip Nasional menyebut sistem kapal cap merah mulai dibentuk pada 1604. Segel itu memberi pengakuan resmi kepada pelayaran dagang ke luar negeri. Izin tersebut menghubungkan perdagangan dengan otoritas politik, tetapi pekerjaan sehari-harinya tetap bersifat komersial: pemilik kapal dan pedagang mengatur kapal, awak berlayar, lalu pedagang mencari pembeli. Izin dapat berarti di pelabuhan asing karena menandai pelayaran yang diakui, tetapi bukan berarti setiap penguasa setempat menerima semua klaim tanpa negosiasi.
Pihak berwenang Jepang dan Vietnam juga bertukar surat. Arsip Nasional menyajikan kumpulan 34 surat antara Keshogunan Tokugawa dan pihak Nguyễn Quảng Nam: 15 dari pihak Tokugawa dan 19 dari pihak Nguyễn. Surat-surat tersebut menunjukkan bahwa perdagangan merupakan bagian dari hubungan diplomatik, bukan hanya rangkaian jual beli pribadi. Dokumen itu juga mengingatkan kita bahwa para pelaku politik di kawasan tersebut memiliki kepentingan dan strategi mereka sendiri. Penelitian Takashi Hasuda dan Hitoshi Yonetani pada 2019 membahas kontak awal Jepang–Vietnam melalui surat-surat dan menekankan pentingnya membaca bahasa serta konteks politiknya dengan cermat.
Perintah tahun 1617 yang dikaitkan dengan Nguyễn Phúc Nguyên memberi contoh nyata tentang kebutuhan setempat. Arsip Nasional menjelaskan adanya instruksi untuk membeli tembaga merah yang dibawa kapal dagang dari Fujian, Guangdong, dan Jepang karena wilayah Thuận Quảng tidak memiliki endapan tembaga. Bukti ini menunjukkan mengapa perdagangan tidak tepat digambarkan sebagai pedagang Jepang yang sekadar menjual barang apa pun yang mereka pilih. Kebutuhan pasar dan pihak berwenang Vietnam turut menentukan barang mana yang bernilai.
Barang-barang itu sendiri menghubungkan berbagai tempat dan orang. Perak dan logam dari Jepang masuk ke dalam pertukaran regional, sementara sutra dan kapas termasuk barang yang beredar melalui jaringan tersebut. Sebuah muatan bisa dijual secara lokal atau diteruskan ke tempat lain. Para pedagang pelabuhan harus berunding dengan perbedaan bahasa, satuan ukuran, kredit, dan kebiasaan politik. Kegiatan ini membutuhkan lebih dari sekadar kapal dan segel: hubungan antarmanusia di dermaga dan pasar juga berperan.
Gambar dapat membantu kita membayangkan kapal-kapal itu, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Sebuah layar lukis dari awal abad ke-17 menggambarkan kapal cap merah dan para pelautnya. Karya itu menunjukkan bagaimana kapal tersebut digambarkan, bukan cetak biru teknis atau catatan sebuah pelayaran tertentu. Ilustrasi kapal dalam koleksi Gaiban Shokan di Arsip Nasional juga berharga karena gambar kapal ini yang masih bertahan jumlahnya terbatas. Koleksi itu selesai disusun pada 1818 dari bahan-bahan terdahulu, sehingga merupakan kompilasi yang dibuat belakangan, bukan gambaran sezaman yang menyerupai foto.
Kapal-kapal tersebut memadukan pengaruh dari berbagai tradisi maritim. Arsip Nasional menyebut ciri-ciri yang dilaporkan, termasuk lambung bergaya jung Tiongkok, buritan dan kemudi bergaya Barat, serta haluan bergaya Jepang. Keragaman ini mengingatkan kita agar tidak membayangkan semua kapal berizin memiliki satu rancangan baku. Gambar dan catatan yang bertahan hanya memberi sebagian bukti, dan tiap sumber perlu dipahami sesuai dengan hal yang benar-benar dapat ditunjukkannya.
Jembatan Tertutup Jepang di Hoi An adalah penanda lain yang menghubungkan kota itu dengan komunitas tersebut. Tradisi setempat mengaitkan jembatan itu dengan para pedagang Jepang, dan sebuah pagoda berdiri di salah satu sisinya. Usia panjang jembatan menjadikannya tempat bersejarah yang mengingatkan pengunjung masa kini pada masa lalu Hoi An, tetapi satu bangunan saja tidak mewakili seluruh sejarah kota. Jembatan itu lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kota yang dibentuk oleh penduduk Vietnam dan beragam pengunjung serta pedagang. Untuk mengenal jembatan dan bekas komunitas Jepang lebih jauh, baca Jembatan Jepang Hoi An dan Kota Jepang yang Hilang.
Bagaimana pelayaran itu berhenti
Pada 1635, Keshogunan Tokugawa melarang kapal Jepang berlayar ke luar negeri dan membatasi perjalanan orang Jepang ke luar negeri. Menurut Arsip Nasional, setelah itu kapal cap merah tidak lagi beroperasi. Larangan ini mengakhiri pelayaran resmi dari Jepang di bawah sistem sebelumnya; hubungan dan komunitas yang sudah terbentuk di luar negeri tidak serta-merta hilang.
Pembatasan tahun 1635 jangan disamakan dengan larangan tahun 1639 terhadap kapal Portugis yang masuk ke Jepang. Keduanya merupakan bagian dari perubahan kebijakan pemerintah Tokugawa atas pergerakan dan perdagangan luar negeri, tetapi merupakan aturan yang berbeda. Perbedaan tanggal menjawab pertanyaan yang berbeda: aturan pertama menghentikan kapal Jepang berlayar ke luar negeri, sedangkan aturan berikutnya melarang kapal Portugis memasuki pelabuhan Jepang.
Berakhirnya pelayaran kapal cap merah juga tidak berarti semua hubungan maritim lenyap seketika. Arsip Nasional melaporkan bahwa orang Jepang masih tinggal di Hoi An selama beberapa dasawarsa setelah larangan tahun 1635. Arsip itu juga membahas catatan yang lebih belakangan dalam kronik Vietnam tentang kapal dagang yang disebut sebagai kapal Jepang di Vietnam selatan pada 1679. Catatan belakangan itu memiliki konteksnya sendiri dan tidak membatalkan larangan atas pelayaran keluar Jepang sebelumnya.
Kebijakan dan kehidupan komunitas bergerak menurut garis waktu yang berbeda. Keshogunan dapat menghentikan satu jenis pelayaran berizin, tetapi orang yang sudah tinggal di luar negeri memiliki rumah, keluarga, dan hubungan bisnis. Kehidupan mereka tidak serta-merta berakhir saat aturan baru diterbitkan di Jepang. Inilah salah satu alasan sejarah kota Jepang tidak bisa diringkas hanya dengan satu tanggal awal dan satu tanggal larangan.
Tahun-tahun setelah pembatasan itu juga menunjukkan risiko jika “isolasi” dianggap sebagai satu sakelar yang memutus semua hubungan. Pemerintah mengubah ketentuan pergerakan dan perdagangan. Perdagangan regional berlanjut melalui jalur dan pelaku lain. Kisah kapal cap merah secara khusus membahas pelayaran keluar Jepang yang berizin dan latar politiknya; kisah ini tidak menyatakan bahwa semua pertukaran di Asia Timur berhenti pada 1635 atau 1639.
Hal yang perlu diingat untuk ujian
Dalam soal sejarah Jepang dan sejarah dunia, hubungkan sistem perizinan dengan jaringan perdagangan. Pihak berwenang Jepang memberikan izin bersegel merah kepada pedagang tertentu, yang berlayar ke pelabuhan Asia Tenggara membawa barang seperti perak dan tembaga. Hoi An berkembang sebagai pelabuhan internasional di wilayah Nguyễn, dan penduduk Jepang membentuk komunitas di sana bersama warga setempat serta pedagang lain. Pokok pentingnya ialah jaringan yang menyatukan izin politik, pertukaran dagang, dan partisipasi masyarakat lokal.
Pastikan angka-angka tetap terhubung dengan definisinya. Halaman bahasa Inggris Arsip Nasional menyebut 130 kapal yang berdagang dengan Vietnam dari 1604 hingga 1639; halaman bahasa Jepangnya menyebut 130 pelayaran ke Vietnam. Kedua halaman itu melabeli angkanya secara berbeda, jadi jangan mengubah satu satuan menjadi satuan lainnya. Catatan izin terpisah untuk 1604–1635 mencantumkan 87 tujuan di Vietnam tengah, masing-masing 56 di Filipina dan Siam, 44 di Kamboja, dan 37 di Tonkin. Catatan itu mencakup periode berbeda dan menghitung izin berdasarkan tujuan.
Bedakan juga tanggal-tanggalnya. Sistem kapal cap merah disebut mulai dibentuk pada 1604. Keshogunan melarang kapal Jepang berlayar ke luar negeri pada 1635. Larangan kapal Portugis menyusul pada 1639. Jika soal menanyakan alasan pelayaran kapal cap merah berakhir, tanggal yang relevan ialah 1635, bukan 1639.
Terakhir, gunakan nama tempat pada masa itu dengan cermat. “Annam”, “Tonkin”, dan “Cochinchina” berasal dari sumber sejarah dan tidak selalu cocok dengan batas negara modern. Kenali lokasi yang dimaksud dalam sumber tertentu. Hoi An merupakan pelabuhan besar di Vietnam tengah dan terhubung dengan para penguasa Nguyễn. Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa “Vietnam” pada masa itu belum menjadi satu wilayah tujuan politik yang bersatu.
Baca selanjutnya
- Dinasti-Dinasti Vietnam dan Pemerintahan Prancis menjelaskan latar politik wilayah Nguyễn dan kawasan sekitar Hoi An.
- Jembatan Jepang Hoi An dan Kota Jepang yang Hilang menelusuri komunitas pelabuhan melalui penanda yang paling dikenal.
- Putri Anio dan Araki Sōtarō menelusuri hubungan pribadi lain antara pedagang Jepang dan Vietnam di bawah Nguyễn.
- Keshogunan Tokugawa untuk Pelajar Sejarah Dunia menjelaskan pemerintahan yang memberi izin pelayaran dan kemudian membatasinya.