Lima menit memahami Perang Tiongkok–Vietnam
Perang Tiongkok–Vietnam adalah invasi besar-besaran Tiongkok ke Vietnam utara pada 17 Februari hingga 16 Maret 1979. Pasukan Tiongkok melintasi perbatasan, bergerak menuju beberapa pusat provinsi dan kota, lalu mundur. Vietnam tetap berada di Kamboja, dan Tiongkok tidak menduduki wilayah Vietnam secara permanen. Beijing menyebut operasi itu sebagai tindakan hukuman yang telah mencapai tujuannya. Hanoi menganggap penarikan pasukan sebagai bukti bahwa Vietnam berhasil melawan invasi. Kedua pemerintah menilai hasil perang berdasarkan tujuan yang berbeda.
Perang ini berawal dari sejumlah perselisihan yang saling terkait. Tiongkok dan Vietnam berselisih mengenai perbatasan serta perlakuan dan kepergian warga keturunan Tionghoa di Vietnam. Pemerintah kedua negara juga mendukung pihak yang berlawanan dalam konflik Kamboja yang meluas. Hubungan Vietnam yang semakin dekat dengan Uni Soviet menambah dimensi Perang Dingin. Invasi tersebut bertujuan membebankan kerugian dan menyampaikan pesan politik, bukan menaklukkan Vietnam atau mengganti pemerintahannya.
- Waktu: 17 Februari–16 Maret 1979; Tiongkok mengumumkan penarikan pada 5 Maret.
- Lokasi: Vietnam utara, di sepanjang perbatasan dengan Tiongkok.
- Pihak yang berperang: Tiongkok dan Vietnam.
- Pemicu regional: Invasi Vietnam ke Kamboja dan tersingkirnya sekutu Tiongkok, Khmer Merah.
- Jumlah awal pasukan Tiongkok: Perkiraan berkisar antara sekitar 150.000 hingga 220.000 tentara.
- Hasil: Pasukan Tiongkok mundur; kedua pemerintah mengklaim keberhasilan.
Kampanye militer dimulai di beberapa bagian perbatasan, termasuk jalur menuju Cao Bằng, Lào Cai, dan Lạng Sơn. Pasukan reguler Vietnam, pasukan setempat, dan milisi memberikan perlawanan. Tiongkok mengumumkan penarikan pada 5 Maret, tetapi pasukannya baru selesai mundur pada 16 Maret.
Peta menunjukkan bahwa kampanye ini bukan satu perjalanan langsung menuju Hanoi. Untuk memahami latar belakang perang Vietnam sebelumnya, baca Penjelasan tentang Perang Vietnam. Invasi Vietnam ke Kamboja membahas krisis regional yang menjadi salah satu pemicu utama.


Mengapa Tiongkok menyerang Vietnam?
Tidak ada satu penyebab tunggal. Perbatasan telah menjadi sumber ketegangan selama bertahun-tahun, dengan sengketa wilayah dan tuduhan mengenai insiden di sepanjang garis perbatasan. Hubungan kedua negara juga memburuk akibat perpindahan dan perlakuan terhadap warga keturunan Tionghoa di Vietnam. Masalah-masalah ini menambah ketidakpercayaan, sementara konflik di Kamboja dan persaingan Tiongkok–Uni Soviet membentuk waktu serta konteks politik kampanye tersebut.
Pemicu regional yang paling langsung adalah Kamboja. Vietnam dan Khmer Merah telah bertempur di perbatasan Kamboja. Pada 25 Desember 1978, Vietnam memulai invasi berskala penuh ke Kamboja. Pasukan Vietnam menyingkirkan Khmer Merah dari kekuasaan dan mendukung pemerintahan yang berpihak pada Hanoi. Tiongkok mendukung pemerintahan Khmer Merah, sehingga memandang intervensi Vietnam sebagai pukulan besar bagi sekutunya dan tanda bahwa pengaruh Vietnam di kawasan sedang meluas.
Vietnam menggambarkan tindakannya sebagai tanggapan terhadap serangan Khmer Merah dan sebagai kebutuhan keamanan. Rakyat Kamboja telah menderita di bawah pemerintahan Khmer Merah, dan invasi serta konflik sesudahnya menambah penderitaan. Perang perbatasan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai persaingan Beijing dan Hanoi; warga sipil Kamboja juga terdampak oleh rangkaian peristiwa yang membantu memicunya.
Hubungan dengan Uni Soviet menambah lapisan persoalan. Vietnam dan Uni Soviet menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama pada 3 November 1978. Tiongkok dan Uni Soviet adalah rival sengit, dan Beijing menganggap kedekatan Vietnam dengan Moskwa relevan bagi keseimbangan kekuatan di Asia Tenggara. Perjanjian itu tidak berarti Uni Soviet otomatis akan berperang demi Vietnam, dan Moskwa tidak melakukan intervensi militer dalam kampanye perbatasan tersebut. Namun, para pemimpin Tiongkok tetap harus mempertimbangkan kemungkinan tanggapan Uni Soviet.
Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat pada Januari 1979, pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping memberi tahu Presiden Jimmy Carter bahwa Tiongkok berniat bertindak terhadap Vietnam sebagai tanggapan atas invasi Vietnam ke Kamboja. Peringatan itu disampaikan hanya beberapa minggu sebelum serangan. Tiongkok menyebut operasinya sebagai tindakan hukuman terbatas untuk memberi Vietnam pelajaran. Itulah alasan yang dinyatakan Beijing, meskipun pasukan Tiongkok tetap memasuki wilayah Vietnam. Konflik perbatasan, perang di Kamboja, hubungan Vietnam–Uni Soviet, dan ambisi regional Tiongkok saling berkelindan.
Jalannya kampanye militer
Pada 17 Februari, pasukan Tiongkok melintasi perbatasan dari Guangxi di timur dan Yunnan di barat. Perkiraan yang diterbitkan mengenai jumlah awal pasukan berkisar antara sekitar 150.000 hingga 220.000 tentara. Serangan menyebar di bagian utara perbatasan yang luas, bukan mengikuti satu jalan menuju ibu kota. Pasukan Tiongkok bergerak menuju kota-kota perbatasan, jalur transportasi, dan pusat provinsi, termasuk daerah sekitar Lạng Sơn, Lào Cai, dan Cao Bằng.
Peta kampanye menunjukkan sejumlah jalur menuju kawasan yang terdiri dari pegunungan, lembah, dan jalan terbatas. Unit-unit yang bergerak melalui rute terpisah harus berkoordinasi dan memasok kebutuhan mereka di medan yang sulit. Sebuah kota dapat penting karena letaknya di jalan atau jalur pegunungan, bukan hanya karena ukurannya. Peta memperlihatkan arah pergerakan pasukan, tetapi tidak menggambarkan tekanan pertempuran bagi warga setempat atau kesulitan praktis yang dihadapi tiap unit.
Tentara Pembebasan Rakyat memiliki jumlah pasukan dan artileri yang lebih besar, tetapi mereka menghadapi perlawanan. Punggung gunung, jalan sempit, dan permukiman yang dipertahankan menyulitkan pergerakan dan koordinasi. Pasukan reguler Vietnam yang berpengalaman tidak semuanya ditempatkan di utara; banyak di antaranya bertugas di Kamboja. Pasukan setempat dan milisi turut bertahan, sementara unit Vietnam bergerak menuju kawasan yang terancam. Pasukan Tiongkok menghadapi berbagai kelompok dengan tingkat latihan dan perlengkapan berbeda, bukan satu garis pertahanan yang seragam.
Pertempuran di sekitar Lạng Sơn menjadi sangat sengit pada fase akhir. Kota itu berada di jalur penting di wilayah perbatasan timur. Pasukan Tiongkok berhasil merebutnya setelah pertempuran berulang, sehingga Beijing memiliki hasil nyata di medan perang untuk ditunjukkan. Namun, perebutan Lạng Sơn tidak menjatuhkan pemerintah Vietnam ataupun mengakhiri kemampuan militernya. Hanoi tidak menarik diri dari Kamboja. Kampanye tersebut merusak permukiman dan infrastruktur di sepanjang jalurnya, dan kedua pihak mengalami kerugian militer.
Pada 5 Maret, Tiongkok mengumumkan bahwa pasukannya akan mundur dan menyatakan operasi hukuman itu telah mencapai tujuannya. Pengumuman tersebut tidak berarti semua pasukan Tiongkok saat itu sudah kembali melintasi perbatasan. Penarikan memerlukan waktu, dan pertempuran serta kerusakan berlanjut selama pasukan mundur. Pada 16 Maret, pasukan Tiongkok telah kembali ke seberang perbatasan. Memisahkan tanggal pengumuman dari tanggal selesainya penarikan sangat penting untuk memahami fase akhir kampanye.
Siapa yang menang dalam Perang Tiongkok–Vietnam?
Tiongkok dapat menunjuk kota-kota yang berhasil direbut, kerusakan yang ditimbulkan di Vietnam utara, dan bukti bahwa Tiongkok bersedia menggunakan kekuatan. Beijing menyatakan telah menyelesaikan operasi terbatas dan memulangkan pasukannya. Jika ukuran keberhasilan yang digunakan adalah kemampuan Tiongkok melancarkan invasi dan membebankan kerugian, kampanye ini memberikan hasil yang terlihat. Namun, Tiongkok tidak memaksa Vietnam keluar dari Kamboja, menghancurkan angkatan bersenjata Vietnam, atau memperoleh kendali jangka panjang atas wilayah Vietnam.
Vietnam dapat menunjuk pada keberlangsungan pemerintahannya, keberadaannya yang tetap di Kamboja, dan penarikan pasukan Tiongkok. Hanoi menggambarkan hasilnya sebagai keberhasilan melawan invasi. Namun, Vietnam tidak berhasil mencegah serangan atau kerusakan terhadap kota-kota dan infrastruktur di utara. Kerugian yang dialami tentara dan warga tetap menjadi bagian dari hasil perang, apa pun penilaian kemenangan yang dipakai pemerintah.
Jadi, siapa yang menang? Jawabannya bergantung pada ukuran keberhasilan. Tiongkok menimbulkan kerusakan dan menunjukkan kemampuannya melancarkan operasi besar. Vietnam mencegah tercapainya tujuan yang lebih luas, yaitu memaksa Hanoi mengubah kebijakan regionalnya. Tidak satu pun pihak meraih semua yang diinginkan, dan keduanya menggunakan akhir kampanye untuk mendukung narasi politik dan diplomatik. Jawaban ujian yang kuat menjelaskan ukuran keberhasilan yang saling bersaing alih-alih sekadar menyebut satu pemenang.
Memisahkan hasil di medan perang dari hasil politik juga membantu menjelaskan keadaan. Merebut sebuah kota merupakan pencapaian militer yang nyata, tetapi tidak otomatis mengubah kebijakan pemerintah lain. Sebaliknya, penarikan pasukan tidak membuktikan bahwa pihak lawan mencapai semua tujuannya. Kampanye ini merusak wilayah perbatasan utara Vietnam, sementara keberadaan Vietnam yang berlanjut di Kamboja menunjukkan bahwa Tiongkok tidak berhasil memaksa Hanoi mengubah haluannya. Fakta-fakta ini menjelaskan mengapa kedua pemerintah dapat mengklaim keberhasilan dengan menunjuk hasil yang berbeda.
Mengapa ketegangan berlanjut setelah penarikan?
Penarikan mengakhiri invasi utama, tetapi tidak mengakhiri permusuhan. Ketegangan perbatasan terus berlangsung, dan kedua negara mengalami bentrokan lagi pada tahun-tahun berikutnya. Vietnam melanjutkan keterlibatannya yang mahal di Kamboja, sementara Tiongkok terus memberi tekanan di sepanjang perbatasan utara. Peristiwa sesudahnya merupakan bagian dari sejarah panjang konflik Tiongkok–Vietnam; peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai kelanjutan tanpa jeda dari kampanye Februari dan Maret.
Dampak fisik kampanye singkat dapat bertahan jauh lebih lama daripada pertempurannya. Kerusakan rumah dan fasilitas transportasi memengaruhi masyarakat setelah pasukan pergi. Foto di bawah memperlihatkan sebuah bangunan di Lạng Sơn yang dipotret pada 2019, dengan kerusakan yang dikaitkan dengan perang 1979. Sebuah kampanye bisa berakhir pada tanggal tertentu, sementara bekas materialnya tetap terlihat.

Tiongkok dan Vietnam memulihkan hubungan diplomatik pada 1991, setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan dan bentrokan. Normalisasi hubungan tidak berarti kepentingan yang berbeda atau kenangan akan konflik itu hilang. Langkah ini menandai keputusan untuk memulihkan hubungan resmi dan mengelola perbedaan melalui jalur lain.
Arti penting perang ini melampaui durasinya yang singkat karena perang tersebut menghubungkan sejarah Vietnam, Kamboja, Tiongkok, dan Uni Soviet. Jika hanya melihat invasi perbatasan, kita bisa melewatkan pengaruh pertempuran di Kamboja terhadap hubungan regional serta peran persaingan Perang Dingin. Strategi negara tidak sepenuhnya menggambarkan pengalaman manusia. Bagi warga kawasan perbatasan, kerusakan dan pengungsian bukan sekadar gagasan abstrak dalam persaingan negara-negara besar.
Apa yang ditanyakan dalam ujian?
Dalam soal sejarah dunia dan AP, hubungkan Perang Tiongkok–Vietnam dengan Perang Indochina Ketiga dan perpecahan Tiongkok–Uni Soviet. Rangkaian penyebab yang ringkas: hubungan Tiongkok dan Vietnam memburuk; Vietnam menyerbu Kamboja dan menyingkirkan sekutu Tiongkok, Khmer Merah; perjanjian Vietnam dengan Uni Soviet meningkatkan kekhawatiran Tiongkok; Tiongkok melancarkan invasi yang disebutnya sebagai operasi hukuman; pasukan Vietnam memberikan perlawanan; lalu pasukan Tiongkok mundur tanpa memaksa Vietnam keluar dari Kamboja.
Bedakan tanggal-tanggalnya. Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Vietnam–Uni Soviet ditandatangani pada 3 November 1978. Invasi penuh Vietnam ke Kamboja dimulai pada 25 Desember 1978. Invasi Tiongkok ke Vietnam dimulai pada 17 Februari 1979. Tiongkok mengumumkan penarikan pada 5 Maret, dan penarikan selesai pada 16 Maret.
Jika soal menanyakan pihak yang menang, jelaskan ukuran keberhasilan yang berbeda. Tiongkok merebut kota-kota perbatasan penting dan menimbulkan kerusakan besar. Vietnam bertahan dari invasi, tetap berada di Kamboja, dan menyaksikan pasukan Tiongkok mundur. Tema terkait mencakup penyatuan kembali Vietnam dan Đổi Mới.
Bacaan selanjutnya
Penjelasan tentang Perang Vietnam menempatkan konflik ini dalam konteks perang-perang Vietnam sebelumnya dan masa pascaperang. Invasi Vietnam ke Kamboja menelusuri krisis regional yang menjadi pemicu langsung. Penyatuan kembali pada 1976 menjelaskan negara yang ingin dipertahankan Vietnam, sedangkan Đổi Mới membahas reformasi ekonomi yang dilakukan kemudian.