0% • 6 menit tersisa
A Christmas Carol

A Christmas Carol

oleh Charles Dickens

Ebenezer Scrooge, pengusaha London yang tamak, dikunjungi pada malam Natal oleh hantu rekan bisnisnya yang telah meninggal, Jacob Marley. Marley memperingatkan bahwa tiga roh akan datang, dan masing-masing memperlihatkan bagian berbeda dari hidup Scrooge, dari masa kecilnya yang sepi hingga perayaan Natal sederhana keluarga Cratchit. Scrooge terbangun pada pagi Natal dalam keadaan berubah dan mulai memperbaiki hubungannya dengan karyawannya serta keponakannya.

6 %(count)s mnt baca
beginner

Ide Utama

"Seorang pengusaha London yang dingin dan membenci Natal dibawa melintasi masa lalu, masa kini, dan masa depannya oleh tiga roh dalam satu malam dan hari berikutnya, lalu bangun dengan tekad untuk berubah."

Wawasan Utama

1

Marley menetapkan jadwal

Marley memberi tahu Scrooge dengan tepat kapan setiap roh akan datang, sehingga waktu kunjungan menjadi kerangka alur cerita.

Contoh

Bayangkan seorang pembaca menulis waktu kedatangan pada kartu, lalu mencentangnya setiap kali kunjungan terjadi.

2

Setiap kunjungan membahas waktu yang berbeda

Roh Masa Lalu memperlihatkan riwayat Scrooge sendiri, Roh Masa Kini memperlihatkan orang-orang di kota pada hari yang sama, dan Roh Masa Depan memperlihatkan peristiwa yang belum terjadi.

Contoh

Misalkan seorang siswa membuat tiga kolom bertuliskan masa lalu, masa kini, dan masa depan, lalu memasukkan setiap adegan ke kolom yang sesuai.

3

Para roh berperilaku berbeda

Dua roh pertama menjelaskan dirinya dan berbicara dengan Scrooge, sedangkan roh ketiga tidak berkata apa-apa dan hanya menunjuk.

Contoh

Bayangkan seorang pemandu wisata yang tidak henti bicara, dibandingkan dengan pemandu lain yang hanya mengangkat tangan ke arah gedung berikutnya.

4

Scrooge mengintip kehidupan orang lain

Beberapa adegan menempatkan Scrooge di luar kehidupan sebuah keluarga, misalnya makan malam keluarga Cratchit, pesta Fred, dan rumah tangga Belle, sehingga ia mengetahui kehidupan mereka tanpa ikut ambil bagian.

Contoh

Misalkan seorang tetangga mengintip pesta dari jendela dan baru kemudian mengetahui apa yang dibicarakan para tamu.

5

Akhir cerita mencerminkan awalnya

Bagian pertama memperlihatkan Scrooge menolak undangan dan sumbangan, sedangkan bagian terakhir memperlihatkan ia mengirim kalkun, menaikkan gaji, dan menerima undangan.

Contoh

Misalkan seorang manajer menolak permintaan pada Januari lalu menyetujuinya pada Desember, itu adalah pembalikan sikap yang sederhana.

Rincian Bab

Berikut ringkasan alur buku A Christmas Carol, kisah hantu pendek karya Charles Dickens yang terbagi menjadi lima bagian. Cerita ini mencakup satu malam Malam Natal, Hari Natal yang menyusul, dan pagi setelahnya. Di bawah ini diuraikan apa yang terjadi pada setiap bagian, dilanjutkan dengan tokoh-tokoh utama dan tips membaca.

Bagian I: Hantu Marley

Cerita dibuka pada Malam Natal di kantor Ebenezer Scrooge di London, seorang pengusaha tua yang tamak dan sama sekali tidak sabar menghadapi musim perayaan. Tujuh tahun sebelumnya, rekan bisnisnya, Jacob Marley, meninggal dunia, tetapi Scrooge tetap mempertahankan nama perusahaan, Scrooge dan Marley, di atas pintu gudang. Kalimat pembuka yang terkenal dari narator adalah:

MARLEY was dead: to begin with.

Keponakan Scrooge yang periang, Fred, datang untuk mengucapkan selamat Natal. Scrooge menjawabnya dengan penolakan tajam, dan keduanya berdebat tentang layak tidaknya Natal dirayakan:

"Bah!" said Scrooge, "Humbug!"

Ketika Fred mengundangnya makan malam keesokan hari, Scrooge menolak. Lalu dua orang pria datang meminta sumbangan untuk orang miskin. Scrooge tidak memberi apa pun dan berkata bahwa mereka yang kesulitan sebaiknya pergi ke penjara atau rumah kerja. Menjelang sore, ia dengan berat hati mengizinkan juru tulisnya, yang kelak bernama Bob Cratchit, libur pada Hari Natal, tetapi ia menggerutu bahwa membayar upah sehari untuk tidak bekerja adalah kerugian.

Malam itu, Scrooge pulang ke kamarnya yang suram, tempat ia tinggal sendirian dan dahulu pernah ia tempati bersama Marley. Di depan pintu rumah, pengetuk pintu sejenak berubah menjadi wajah Marley. Di dalam, Scrooge memeriksa setiap ruangan, mengunci pintu dua kali, lalu duduk di dekat perapian kecil dengan bubur encernya. Kemudian lonceng di sebuah ruangan yang tidak terpakai mulai berayun, semua lonceng di rumah berbunyi, dan terdengar derak rantai dari ruang bawah tanah. Hantu Marley menembus pintu yang terkunci, transparan, mengenakan kuncir dan rompi lamanya, sambil menyeret rantai yang terbuat dari kotak uang, kunci, gembok, buku besar, surat-surat, dan dompet baja.

Awalnya Scrooge tidak mau percaya. Marley menjelaskan bahwa roh seseorang harus mengembara di bumi setelah mati jika semasa hidupnya ia tidak bergaul dengan sesama, dan dirinya sendiri memakai rantai yang ia tempa semasa hidup. Ia berkata Scrooge masih memiliki kesempatan untuk menghindari nasib yang sama, dan bahwa tiga roh akan mengunjunginya: yang pertama pada pukul satu dini hari, yang kedua pada malam berikutnya di jam yang sama, dan yang ketiga pada malam sesudahnya, ketika dentang terakhir pukul dua belas telah reda. Marley kemudian keluar lewat jendela, dan Scrooge melihat hantu-hantu gelisah di udara, semuanya terikat rantai dan tidak mampu menolong orang hidup. Scrooge pergi tidur dan akhirnya terlelap.

Bagian II: Roh Pertama, Masa Lalu

Scrooge terbangun dalam gelap dan mendengar jam berdentang dua belas kali. Ia yakin telah tidur sepanjang hari, dan tidak tahu apakah sekarang siang atau tengah malam, jadi ia menunggu lonceng pukul satu. Pengunjung pertama adalah Hantu Natal Masa Lalu. Wujudnya seperti anak kecil, tetapi rambutnya putih seperti orang tua, wajahnya halus dan muda, dan cahaya terang memancar dari atas kepalanya. Roh itu membawa Scrooge kembali ke pedesaan masa kecilnya, dan ia menangis ketika mengenali jalan dan gerbang yang dahulu ia kenal. Ia melihat dirinya sebagai anak laki-laki yang sepi, ditinggal di sekolah pada masa Natal, membaca di dekat api yang redup. Lalu adik perempuannya, Fan, datang berlari untuk menjemputnya pulang selamanya, dan mengatakan bahwa ayah mereka kini jauh lebih baik hati.

Berikutnya mereka mengunjungi gudang tempat Scrooge muda pernah menjadi murid magang di bawah Tuan Fezziwig yang riang. Pada Malam Natal, Fezziwig menutup pintu toko, mengosongkan lantai, dan mengadakan pesta dansa dengan musik, permainan, kue, dan daging panggang untuk semua pegawainya. Scrooge sangat gembira dan memuji Fezziwig, dengan alasan bahwa orang yang mampu membuat orang lain bahagia lewat hal-hal kecil telah berbuat kebaikan yang besar.

Roh itu lalu memperlihatkan Scrooge sebagai pemuda yang bertunangan dengan seorang gadis bernama Belle. Belle berkata bahwa kecintaannya pada keuntungan telah menggantikan setiap harapan lain dalam dirinya, dan ia melepaskan Scrooge dari ikatan pertunangan. Scrooge tidak bisa menyangkal bahwa dirinya telah berubah:

"I was a boy," he said impatiently.

Setelah itu roh memperlihatkan Belle bertahun-tahun kemudian, sebagai istri dan ibu yang dikelilingi anak-anak yang ramai. Suaminya menyebutkan bahwa ia melihat Scrooge sendirian di kantornya, dan rekan bisnisnya sedang sekarat. Scrooge memohon untuk dibawa pergi. Ketika roh itu tidak melepaskannya, ia meraih tutup lampu milik roh itu dan menekannya ke kepala roh, tetapi cahayanya tetap tembus. Scrooge merasa mengantuk dan mendapati dirinya kembali di kamar tidurnya, lalu tertidur pulas.

Bagian III: Roh Kedua, Masa Kini

Pada pukul satu malam berikutnya, Scrooge dibangunkan oleh Hantu Natal Masa Kini. Wujudnya raksasa periang yang mengenakan jubah hijau berpinggiran bulu putih, dengan karangan daun holly di kepalanya dan obor yang menyala di tangannya. Roh itu membawa Scrooge menyusuri jalan-jalan London pada pagi Natal, tempat orang-orang menyekop salju dari trotoar, toko-toko memajang buah dan unggas, dan keluarga-keluarga bergegas ke gereja lalu membawa makan malam mereka ke toko roti. Roh itu memercikkan cahaya obornya ke hidangan keluarga-keluarga miskin. Ketika Scrooge bertanya mengapa, roh itu menjawab bahwa hidangan seperti itulah yang paling membutuhkannya.

Roh itu kemudian membawa Scrooge ke rumah juru tulisnya, Bob Cratchit. Bob mendapat lima belas shilling seminggu dan tinggal di rumah kecil bersama istrinya, anak-anak mereka Peter, Martha dan Belinda, serta seorang anak laki-laki kecil bernama Tiny Tim, yang berjalan dengan tongkat penopang dan kakinya disangga bingkai besi. Keluarga itu duduk untuk menyantap angsa panggang, puding, dan minuman hangat. Bob mengangkat gelasnya untuk "Tuan Scrooge, Sang Penyelenggara Pesta", dan Nyonya Cratchit membalas dengan kata-kata pahit, tetapi tetap minum demi hari itu. Lalu Tiny Tim berkata:

"God bless us every one!" said Tiny Tim, the last of all.

Scrooge bertanya apakah Tiny Tim akan hidup. Roh itu menunjukkan kursi kosong di dekat perapian dan tongkat tanpa pemilik, lalu berkata bahwa jika masa depan tidak berubah, anak itu akan mati. Scrooge memohon agar dikatakan bahwa anak itu akan selamat. Roh itu mengulang ucapan kejam Scrooge sendiri tentang mengurangi populasi berlebih, menegurnya, dan bertanya siapa yang memberinya hak untuk memutuskan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati.

Setelah itu roh membawa Scrooge melintasi negeri dan ke laut: ke sebuah gubuk tempat para penambang menyanyikan lagu lama, ke sebuah mercusuar tempat dua penjaga berbagi minuman dan nyanyian, dan ke sebuah kapal tempat para pelaut merayakan Natal dengan cara sunyi mereka sendiri. Akhirnya Scrooge mendengar tawa yang ia kenal dan mendapati keponakannya, Fred, di rumahnya sendiri, masih tertawa bersama istrinya, teman-teman, dan kerabat seusai makan malam. Fred berkata bahwa pamannya lebih pantas dikasihani daripada dibenci, bahwa ia kehilangan makan enak dan pergaulan menyenangkan karena selalu menolak datang, dan bahwa ia akan terus mengundangnya setiap tahun. Para tamu bermain tangkap-tangkapan dengan mata tertutup dan permainan Ya dan Tidak. Dalam permainan itu, jawabannya ternyata "Paman Scrooge", dan mereka mengangkat gelas untuknya. Scrooge tersentuh dan memohon untuk tinggal sebentar lagi, tetapi roh itu berkata hal itu tidak bisa dilakukan.

Seiring malam berjalan, roh itu semakin tua dan rambutnya memutih. Ia berkata bahwa hidupnya di bumi akan berakhir tengah malam. Lalu ia menarik dua anak yang kumal dan menyedihkan dari lipatan jubahnya. Mereka bernama Kebodohan dan Kekurangan, dan roh itu memperingatkan Scrooge agar waspada terhadap keduanya, terutama anak laki-laki itu. Lonceng berdentang dua belas kali, dan sosok berjubah khidmat melayang mendekat dalam kegelapan.

Bagian IV: Roh Terakhir, Masa Depan

Roh ketiga, Hantu Natal yang Akan Datang, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia terbungkus kain hitam yang menutupi segalanya kecuali satu tangan yang terulur. Scrooge berlutut dan bertanya apakah roh itu akan memperlihatkan hal-hal yang belum terjadi, lalu ia mengikutinya ke kota. Di bursa, para pedagang membicarakan seseorang yang baru meninggal. Tak seorang pun tampak bersedih. Mereka bercanda tentang siapa yang akan datang ke pemakaman dan apakah akan ada jamuan makan siang. Scrooge mencari tempatnya yang biasa, tetapi di sana berdiri seorang asing.

Roh itu membawanya ke sebuah toko suram di kawasan gelap, tempat seorang pedagang barang bekas bernama Joe membeli kain lap, tulang, dan besi tua. Tiga orang datang membawa bungkusan: seorang pembersih rumah, seorang tukang cuci bernama Nyonya Dilber, dan seorang pegawai rumah duka. Masing-masing telah mengambil sesuatu dari kamar pria yang sudah meninggal itu. Joe membayar kelambu tempat tidur, selimut, sehelai kemeja, dan beberapa barang kecil, lalu mencatat jumlahnya dengan kapur di dinding. Para wanita itu tertawa bahwa pria itu semasa hidup telah menjauhkan semua orang darinya, dan kini justru menguntungkan mereka. Scrooge ngeri mendengarnya.

Kemudian roh itu memperlihatkan sebuah ranjang kosong di kamar gelap, tempat seorang pria terbaring di bawah selembar kain compang-camping, tanpa ada yang menjaga, menangisi, atau memedulikannya. Roh itu menunjuk ke arah kepala. Scrooge ingin menyibak kain itu untuk melihat wajahnya, tetapi ia tidak kuasa menggerakkannya. Ia memohon agar diperlihatkan sedikit kelembutan yang berhubungan dengan kematian, dan adegan beralih ke sebuah keluarga di bawah cahaya siang. Seorang pria muda pulang, dan istrinya bertanya apakah kabarnya baik atau buruk. Ia menjawab bahwa pria yang sudah meninggal itu tidak lagi bisa berbelas kasihan. Mereka lega, karena utang yang mereka miliki kepada pria itu tidak akan lagi ditagih, dan mereka pergi tidur dengan hati yang lebih ringan.

Roh itu kemudian membawa Scrooge ke rumah keluarga Cratchit, tempat seluruh keluarga anehnya sunyi. Peter membacakan sebuah ayat Alkitab tentang seorang anak yang ditempatkan di tengah-tengah orang lain, dan Nyonya Cratchit meletakkan pekerjaannya lalu menutupi wajahnya. Keluarga itu teringat bagaimana dulu mereka menggendong Tiny Tim di bahu. Ketika Bob pulang, ia tampak murung. Ia menceritakan bahwa keponakan Scrooge menemuinya di jalan, mengatakan dengan tulus turut berduka atas istrinya, dan memberinya kartu nama. Lalu Bob bercerita tentang tempat hijau yang tenang, yang pernah ia janjikan untuk dikunjungi bersama anaknya yang kecil setiap hari Minggu, dan ia pun pecah menangis sambil berkata, "Anak kecilku!" Dalam masa depan ini, Tiny Tim telah meninggal, dan keluarga itu mengetahuinya.

Akhirnya roh itu membawa Scrooge ke sebuah pemakaman dan menunjuk sebuah makam yang terbengkalai. Scrooge berlutut dan membaca nama pada batu nisan itu: EBENEZER SCROOGE. Ia memohon agar dikatakan bahwa bayangan itu bisa berubah, berjanji akan menghormati Natal di dalam hatinya sepanjang tahun, dan mencengkeram jubah roh itu. Tangan roh itu gemetar, lalu tudung dan jubah gelapnya menyusut dan runtuh hingga menjadi tiang ranjang.

Bagian V: Akhir Semuanya

Scrooge terbangun di ranjangnya sendiri pada pagi Natal. Kelambu tempat tidurnya masih ada, dan lonceng sedang berbunyi. Ia belum melewatkan Natal, dan ia sangat gembira. Ia mengirimkan kalkun besar dari toko unggas ke rumah Bob Cratchit tanpa menyebutkan namanya, dan memberi anak yang mengantarkannya uang tip yang banyak. Ia mengenakan pakaian terbaiknya dan berjalan di jalanan sambil tersenyum kepada semua orang. Ia menemui pria gemuk terhormat yang datang meminta sumbangan sehari sebelumnya, dan berjanji menyumbang jumlah yang besar. Pria itu terkejut dan berjanji akan datang berkunjung.

Pada sore hari, Scrooge pergi ke rumah Fred. Setelah sejenak ragu, ia masuk dan membuat keponakannya terkejut, tetapi Fred menyambutnya dengan hangat. Scrooge segera merasa betah bersama keluarga itu dalam makan malam dan permainan yang menyusul. Keesokan paginya, ia datang ke kantor sangat pagi dan menunggu Bob Cratchit, berharap bisa memergokinya terlambat. Ketika Bob datang delapan belas setengah menit setelah pukul sembilan, Scrooge pura-pura marah. Lalu ia mengumumkan akan menaikkan gaji Bob, membantu keluarganya yang sedang kesusahan, dan membeli sekop batu bara baru. Ia menepuk punggung Bob dan mengucapkan Natal yang lebih baik daripada yang pernah ia berikan kepadanya selama bertahun-tahun.

Sejak saat itu Scrooge menjadi sahabat, majikan, dan tetangga yang baik, seperti yang belum pernah dikenal kota tua itu. Ia menjadi ayah kedua bagi Tiny Tim, yang tidak meninggal. Ia tidak lagi berhubungan dengan roh-roh, tetapi ia merayakan Natal sebagaimana diajarkan roh-roh itu sepanjang sisa hidupnya.

Tokoh Utama

  • Ebenezer Scrooge: pengusaha kaya di London yang membenci Natal dan menolak memberi kepada orang miskin, tetapi berubah total hanya dalam satu malam.
  • Jacob Marley: rekan bisnis Scrooge yang telah meninggal, yang hantunya muncul pada Malam Natal untuk memperingatkannya.
  • Fred: keponakan Scrooge yang periang, yang terus mengundangnya makan malam dan membelanya di pestanya sendiri.
  • Bob Cratchit: juru tulis Scrooge yang berpenghasilan kecil dan menanggung keluarga besar.
  • Tiny Tim: putra kecil Bob yang berjalan dengan tongkat, dan masa depannya diperlihatkan kepada Scrooge.
  • Belle: gadis yang pernah bertunangan dengan Scrooge, yang mengakhiri pertunangan karena kecintaan Scrooge pada uang.
  • Tuan Fezziwig: majikan lama Scrooge yang murah hati, yang mengadakan pesta dansa di gudang.
  • Tiga roh: Hantu Natal Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan, yang menuntun Scrooge melewati riwayat hidupnya, keluarga Cratchit, dan kemungkinan masa depannya.

Tips Membaca

Bacalah kelima bagian secara berurutan, karena cerita ini disusun di sekitar jam. Catat waktu setiap kunjungan yang telah diberitahukan Marley sebelumnya. Judul setiap bagian menyebutkan roh yang muncul di dalamnya, sehingga strukturnya mudah diikuti.

Ambil Tindakan

Langkah praktis yang bisa Anda terapkan hari ini:

  • Tulis waktu ketiga kunjungan sebelum mulai membaca bagian II.

  • Daftarkan tempat-tempat yang dikunjungi Scrooge bersama setiap roh, dan tandai mana yang berada di masa lalu dan mana di masa kini.

  • Bandingkan pertemuan pertama Scrooge dengan Fred di bagian I dan kunjungan terakhirnya ke rumah Fred di bagian V.

  • Baca adegan di toko Joe dengan perlahan dan catat siapa membawa barang apa.

  • Lacak kemunculan Tiny Tim mulai dari bagian III untuk melihat bagaimana masa depannya berubah.

  • Baca bagian V sekaligus untuk merasakan betapa cepat suasana berubah dari muram menjadi gembira.

  • Buat daftar singkat tokoh dengan satu baris untuk tiap tokoh agar tidak bingung ketika roh-roh bermunculan.

Kutipan Menarik

"MARLEY was dead: to begin with."

— Charles Dickens

"God bless us every one!"

— Charles Dickens

Siapa yang Harus Membaca Ini

Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin membaca kisah hantu yang pendek, utuh, dan beralur jelas dengan tokoh utama yang mudah diingat.

Tentang Charles Dickens

Charles Dickens (1812–1870) was an English novelist.

Ringkasan Ditulis Oleh

Alex Ng
Alex Ng

Software Engineer & Writer

Software engineer with a passion for distilling complex ideas into actionable insights. Writes about finance, investment, entrepreneurship, and technology.

Lihat semua ringkasan →

Ulasan

Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama berbagi pemikiran Anda!

Tulis Ulasan

Anda Mungkin Juga Menyukai