A Christmas Carol biasanya diingat sebagai kisah seorang pria yang mengubah pikirannya. Tema-temanya lebih tajam dari itu. Dickens terus kembali pada tiga gagasan: kemurahan hati adalah praktik, bukan sekadar perasaan; isolasi merugikan bahkan ketika tampak seperti kemandirian; dan tanggung jawab tidak bisa diserahkan kepada lembaga amal, penjara, atau buku catatan. Artikel ini menelusuri tema-tema tersebut melalui teks dan tidak menceritakan ulang alur ceritanya.
Kemurahan hati dinilai dari harganya
Ujian pertama yang sungguh-sungguh bagi karakter Scrooge datang dalam permintaan uang. Seorang pria terhormat memintanya berkontribusi pada dana yang akan membeli "the Poor some meat and drink, and means of warmth" (makanan, minuman, dan kehangatan bagi orang miskin), lalu menjelaskan waktunya: "it is a time, of all others, when Want is keenly felt, and Abundance rejoices" (inilah saat ketika kekurangan paling terasa, dan kelimpahan bersukacita). Jawaban Scrooge hanya satu kata: "Nothing!" (Tidak ada!).
Adegan ini penting karena Scrooge bukan sekadar kikir. Ia memiliki pandangan yang mapan tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan, dan dalam pandangan itu kewajiban menolong ada pada individu yang memilih untuk membayar. Dickens membiarkan pembaca melihat bahwa penolakan itu adalah sebuah keputusan, dan keputusan itu berdampak pada orang-orang yang tidak akan pernah ia temui.
Isolasi tampak seperti kemandirian
Isolasi Scrooge dibangun dari kebiasaan. Ia menolak undangan keponakannya, membalas "Merry Christmas" dengan "Bah! Humbug!" (Cih, omong kosong!), dan membiarkan api di kantornya tetap kecil. Cerita ini menyajikannya sebagai kehilangan, bukan kemenangan. Hantu Natal Masa Lalu membawanya kembali ke ruang kelas tempat seorang anak ditinggalkan sendirian saat Natal. Adegan itu memperlihatkan bahwa kesepian dibentuk oleh keputusan orang lain, tidak hanya oleh watak pribadi.
Tema yang sama mengalir dalam keluarga Cratchit. Keluarga Bob miskin, tetapi tidak terisolasi. Kehangatan mereka bergantung pada orang-orang yang saling hadir, dan inilah kontras yang dibuat Dickens dengan ruangan Scrooge.
Tanggung jawab tidak bisa dialihdayakan
Pernyataan paling langsung tentang tema ini datang dari hantu Marley. Scrooge membela diri dengan menyebut Marley "a good man of business" (seorang pengusaha yang baik), dan hantu itu menjawab: "Mankind was my business. The common welfare was my business; charity, mercy, forbearance, and benevolence, were, all, my business." (Umat manusia adalah urusanku. Kesejahteraan bersama adalah urusanku; amal, belas kasih, kesabaran, dan kebajikan, semuanya adalah urusanku). Dalam arti ini, "urusan" berarti kewajiban terhadap sesama, bukan sebaris angka di neraca.
Gagasan ini kembali dalam kunjungan Hantu Natal Masa Kini. Hantu itu mengeluarkan dua anak dari lipatan jubahnya dan menunjukkannya kepada Scrooge: "This boy is Ignorance. This girl is Want." (Anak laki-laki ini Kebodohan. Anak perempuan ini Kekurangan). Menurut hantu itu, mereka adalah "Man's" (milik umat manusia), menempel pada sang hantu, "appealing from their fathers" (memohon dari ayah-ayah mereka). Tidak ada satu donatur pun yang bisa menutup celah itu, sehingga cerita ini memperlakukannya sebagai urusan semua orang. Ketika Scrooge bertanya apakah mereka punya tempat berlindung, hantu itu mengembalikan kata-katanya sendiri: "Are there no prisons?" (Tidak adakah penjara?) dan "Are there no workhouses?" (Tidak adakah rumah kerja paksa?). Scrooge pernah memakai kalimat-kalimat itu untuk menepis orang miskin. Kini kalimat itu kembali kepadanya.
Kunjungan terakhir, dari Hantu Natal yang Akan Datang, memperlihatkan masa depan ketika kematian Scrooge tidak diratapi siapa pun: orang-orang yang membicarakannya acuh tak acuh. Scrooge memohon agar bayangan itu bisa diubah melalui hidup yang berubah. Sisa cerita adalah perubahan itu, dijalankan satu tindakan demi satu tindakan.
Perubahan sebagai disiplin harian
Perubahan Scrooge tidak datang dari satu wawasan. Ia berjanji untuk "honour Christmas in my heart, and try to keep it all the year" (menghormati Natal di dalam hati dan berusaha menjaganya sepanjang tahun), dan untuk "live in the Past, the Present, and the Future" (hidup dalam Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan). Itu adalah janji untuk terus bertindak, bukan perasaan yang bisa selesai begitu saja. Halaman-halaman terakhir menunjukkan hasilnya: ia menaikkan gaji Bob, menjadi ayah kedua bagi Tiny Tim, dan dikenal sebagai "as good a friend, as good a master, and as good a man" (sahabat yang baik, majikan yang baik, dan orang yang baik) seperti yang pernah dikenal kota itu.
Dickens juga mencatat bahwa ada orang yang menertawakan perubahan itu. Cerita ini tidak berpura-pura semua orang akan setuju. Ia menggambarkan Scrooge yang baru sebagai orang yang kebaikannya tampak dalam tindakan biasa yang diulang-ulang.
Yang tidak diklaim oleh tema ini
A Christmas Carol adalah fabel moral, dan ia punya batas. Jawabannya atas kemiskinan sebagian besar bersifat pribadi. Pertobatan Scrooge meringankan keluarga Cratchit, tetapi buku ini tidak menelaah upah, hukum, atau sistem rumah kerja paksa yang membentuk hidup mereka. Pembaca yang menginginkan konteks itu biasanya beralih ke novel-novel Dickens yang lain dan sejarah sosial masa itu. Anggap cerita ini sebagai studi tentang bagaimana pilihan individu dan lembaga publik saling memperkuat, bukan sebagai analisis kebijakan yang lengkap.
Tiga pertanyaan untuk dibawa saat membaca ulang
- Apa sebenarnya ongkos kemurahan hati, dan siapa yang membayar ketika ia ditolak?
- Jenis isolasi mana yang dipilih sendiri, dan mana yang dipaksakan oleh keadaan?
- Ketika sebuah lembaga gagal, siapa yang bertanggung jawab, dan apa yang dibutuhkan individu untuk bertindak?
Teks ini tidak menjawab ketiganya. Namun ia membuat setiap pertanyaan sulit untuk diabaikan.